Ada kisah tersendiri antara aku dan botol air mineral bekas.
Suatu hari (aku lupa semester berapa saat itu), saat perjalanan pulang dari kampus menuju asrama yang jaraknya tidak lebih dari 1 km, aku melihat seorang bapak tua tengah mengais-ais botol air mineral di tempat sampah. Aku adalah orang yang cepat terenyuh melihat seorang tua renta. Karena mengingatkan aku pada kakek dan nenekku, juga membayangkan bagaimana jika itu adalah ayah dan ibuku?
Bukankah harusnya mereka bisa menikmati masa tua di rumah? Duduk di kursi goyang sambil membaca koran, atau sesekali bermain dengan cucu-cucu mereka. Dilayani dan diperhatikan dengan baik oleh anak-anaknya tanpa harus membanting tulang seumur hidup demi sesuap nasi.
Aku merogoh saku rok ku. Ingin memberi tapi ragu. Karena memang ada sebagian orang yang menerima jika diberi, ada juga yang menolak/merasa tersinggung karena merasa masih mampu mencari uang sendiri dengan usahanya.
Aku terdiam lama di sebrang jalan sambil memperhatikan bapak tua itu. Akhirnya ku urungkan niatku sambil terus berpikir cara untuk bisa membantu tanpa harus menyinggung perasaan mereka.
Aku berhenti di warung nenek yang berjualan minuman. Nenek yang sudah seperti nenek sendiri dan akrab dengan mahasiswa lainnya. Aku membeli 2 botol air mineral besar untuk di kamar asrama. Sambil berjalan terus berpikir. Sampai akhirnya, tertujulah mata ini pada sisi tempat sampah yang penuh dengan botol bekas air mineral dekat pintu asrama lantai tiga. Otak yang tengah bekerja keras ini akhirnya menemukan titik temu. Mata langsung tertuju pada satu arah, otak berhenti berputar disatu ide, dan kaki dengan refleks melangkah pada tempat sampah.
Aku memegang satu botol bekas sambil tersenyum. Ini cara yang terbaik, pikirku saat itu. Aku langsung berjalan cepat menuju kamar dan mengambil plastik bekas belanjaan yang selalu aku kumpulkan. Lalu bergegas kembali ke kebawah, mencari bapak yang tadi tengah berjalan pelan mencari botol bekas. Untungnya bapak itu tengah berhenti tidak jauh dari asramaku. Aku mendekatinya, dan bertanya apakah mau jika kuberi botol-botol bekas air mineral. Ternyata tawaranku disambut baik olehnya. Lalu aku memintanya menunggu di tempat nenek minuman sambil aku mengumpulkan botol bekas ke dalam satu plastik untuknya.
Dengan cepat aku naik ke lantai tiga. Aku tidak ingin bapak itu menunggu terlalu lama. Karena menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan. Dan bukankah jika aku bergerak cepat dia bisa punya lebih banyak waktu untuk bergerak ke tempat lain?
Setelah terkumpul dalam satu plastik besar, aku memberikannya pada bapak itu. Dengan tersenyum dia mengucapkan terimakasih dan melanjutkan perjalanannya. Saat itu ada rasa bahagia di hati. Rasa bahagia karena bisa membantu sesama meski tidak dengan uang.
Sejak hari itu, aku rajin mengumpulkan botol bekas air mineral. Bahkan aku meminta teman-teman yang lain untuk mengumpulkannya padaku, kemudian aku berikan pada pemulung. Bahkan kadang tak jarang aku memungutnya dari tempat sampah depan kamar teman-teman. Aku memberikannya tidak hanya pada satu orang. Tapi pada pemulung-pemulung yang lainnya juga. Aku coba bagi sama rata jika botol bekasnya terkumpul banyak hingga beberapa plastik. Aku lebih mengutamakan bapak/ibu tua ketimbang yang muda.
Kegiatan ini terus berlanjut hingga masa coAss selesai. Bahkan kadang aku tak segan membawa botol-botol bekas itu dari ruang coAss menuju kosan. Walaupun saat itu harus pulang pergi dengan metromini sambil membawa plastik-plastik botol bekas
Jika kita memiliki keterbatasan uang untuk membantu, bukankah masih ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama? Uang bukanlah tolok ukur untuk segalanya.

