Dengan sabar ku tunggu waktu 2 minggu itu. Tepat 2 minggu (senin, 9 April 2012), aku lalui hari seperti biasa. Tidak ada hal menarik, kegiatan menarik, atau bertemu dengan orang yang menarik lainnya. Saat tengah memainkan handphone aku baru tersadar. Aku mulai mengerti maksud mimpi itu. Pagi tadi, sekitar pukul 06.00 WIB, mama membangunkan aku. Beliau mengatakan aku harus ikut pergi umroh dengan mama dan kakak ku. Aku yang baru bangun tidur hanya terdiam dan berkata "Terserah mama, tapi aku ga ada uang untuk biaya umroh," jelasku waktu itu. Karena yang aku tahu, kakak ku pergi umroh dengan uang sendiri hasil PTT-nya (praktek tidak tetap) yang selama setahun di pulau Sulawesi. Ternyata mama merubah rencananya, aku akan diajaknya umroh dengan biaya dari mama, termasuk kakak ku. Bahkan, seminggu mendekati pergi umroh, adik perempuanku pun di ajak oleh mama.
Aku yang baru tersadar tentang kejadian pagi itu cuma bisa kaget. Perjalanan mengunjungi Baitullah inilah jodohku. Aku memang selalu merindukan kapan aku bisa mengunjungi Rumah Allah. Melihat Kakbah dari dekat, mencium batu Hajar Aswad, shalat di Masjidil Haram, masjid Nabawi, Shalat di Raudhah atau mengunjungi Jabal Ar-Rahmah. Tidak cuma aku pastinya yang merindukan moment ini. Semua umat muslim di dunia pasti menginginkan dan merindukannya. Dan aku memiliki kesempatan itu.
Tak terasa air mata ku menetes. Dada ku berdebar menunggu hari itu. Sungguh indah rencana-Mu ya Allah. Bagaimana mungkin aku bisa pergi mengunjungi rumah-Mu dengan keterbatasan uang yang ku miliki. Jangankan berencana pergi umroh, mungkin aku lebih bisa bermimpi pergi haji dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit (yang entah akan terkumpul berapa tahun kemudian, mengingat biaya pergi haji di Indonesia begitu mahal).

