Selasa, 28 Agustus 2012

Baby Born

Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah , lalu kami jadikan dia air Mani ( nutfah ) yang disimpan di dalam tempat yang kuat ( rahim ), kemudian dari air mani kami jadikan segumpal darah ( alaqah ), kemudian dari segumpal darah kami jadikan gumpalan ( mudhghoh ), dan gumpalan tersebut kami jadikan tulang belulang dan tulang belulang tersebut kami bungkus dengan daging, kemudian kami kembangkan menjadi makhluk yang lain lagi, dan kami tidak melalaikan ciptaan kami
(Al-Qur’an – S. Al-Mu’minuun : 12-14)



Entah apa yang ku rasakan dan ku lihat sebagai seorang bayi mungil yang suci dan bersih saat aku terlahir ke dunia ini
Apakah kedua mataku sudah mampu melihat wajah-wajah penuh dusta?
Apakah kulitku sudah mampu merasakan panasnya hawa dunia yang fana? Panasnya hawa nafsu dunia akan harta, kekuasaan, kebohongan dan kesombongan
Apakah hidungku sudah mampu mencium bau busuk hati orang-orang yang penuh dengan rasa iri dan dengki? Penyakit hati yang menggerogoti setiap jiwa yang kering akan siraman cinta-Mu
Apakah lidahku sudah mampu mengecap makanan yang haram atau halal?
Apakah telingaku saat itu mampu mendengar suara hati manusia yang bermuka dua dan munafik?

Tidak!

Allah menutup penglihatanku saat itu dari hal yang tidak baik
Allah menutup telingaku dengan suara adzan yang dikumandangkan ayah dengan merdu dan kasih sayangnya
Allah melindungiku dari makanan haram lewat ASI yang diberikan ibuku
Bahkan melindungi kulitku lewat pelukan hangat ibu yang menyentuhku, dan yang bisa kuhirup adalah aroma wangi tubuh ibu.

Begitu penuh kasih sayangnya Allah saat aku pertama hadir di dunia.

Ayah, aku suka sekali mendengar suara adzan yang keluar melalui bibirmu. Begitu merdu dan syahdu. Terasa sekali bergetarnya hatimu saat kau adzani telingaku. Begitu tersampaikannya rasa tanggung jawabmu terhadapku untuk mendidikku menjadi manusia yang baik. Aku ingin segera mendengar lantunan indah yang sering engkau perdengarkan padaku saat aku masih di dalam perut ibu. Aku dengar ibu berbisik padaku saat itu, "Sayang, ayah sedang membacakan ayat suci Al-Qur'an untukmu. Dengarlah suara syahdunya. Semoga tersampaikan rasa cinta ayah dan ibu untukmu melalui ayat-ayat yang ayah bacakan untukmu. Semoga kamu menjadi anak yang soleh dan berakhlak mulia."

Ibu, tangan lembutmu yang menyentuh kulitku seakan memindahkan jiwamu kepada jiwaku. Begitu terasanya kasih sayangmu yang tulus untukku. Tetes hangat air matamu saat pertama melihatku menggugah jiwaku. Peluk hangatmu seakan tak seorang pun boleh melukaiku. Seakan berkata jiwa dan ragamu hanya untukku. Semoga aku kelak menjadi anak yang berbakti padamu ibu, dan padamu ayah.

Ya Allah, terima kasih Engkau telah menitipkanku di tengah keluarga yang bernapaskan islam ini. Mereka orang tua terhebat yang Engkau berikan untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar