Selasa, 27 November 2012

Kamu adalah Air, dan Tetaplah Menjadi Air

"Kamu adalah air, dan tetaplah menjadi air. Yang mampu membawa arus ketenangan dalam kehidupan, dan menjadi sumber kebahagiaan bagi setiap orang disekitarmu. Seperti mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi semua orang. Jangan pernah berpikir untuk menjadi api, tanah, udara maupun logam. Air yang jernih dan mengalir tenang. Itulah adanya kamu." 


Alam memiliki banyak hal yang bisa dikaitkan dengan jiwa manusia. Alam semesta adalah guru yang jujur, bijak, dengan segala pembelajaran-pembelajaran yang diberikannya melalui banyak hal. Alam tak pernah berbohong. Ia menampakkan apa yang seharusnya tampak, dan menyembunyikan yang semestinya tersembunyi.

Alam juga memiliki jiwa. Dan jiwa inilah yang menjadi unsur-unsur dasar terbentuknya alam. Tanah, air, api, udara dan logam (mineral).

Tak ada yang salah dengan unsur-unsur yang lain. Tapi nasehat dari seseorang yang sudah seperti kakak sendiri ini membuatku berpikir, "Ya, tetaplah menjadi air," yang artinya tetaplah jadi diri sendiri, apa adanya seorang Indah Puji Lestari.

Rabu, 21 November 2012

jiwaku... Bersabarlah...


aku butuh alam bebas!
untuk menggapai segala mimpiku yang tertunda sekian tahun
memenuhi segala hasrat dan ambisiku
dan melampiaskan segala egoku ke udara

tapi yang kumiliki hanya ruang!
dimana aku harus membunuh segala mimpiku
melupakan segala hasrat dan ambisiku
menekan egoku

gerak ku terbatas
imajinasiku menjadi abstrak
aku seperti terkurung dalam ruang sempit

jiwaku adalah jiwa bebas
yang tak ingin terikat oleh apapun

aku ingin membentangkan sayapku ke udara
menapaki gunung tinggi yang terjal
mengarungi samudera
atau membuat lubang hingga kedasar bumi

tapi yang kulihat sekarang hanya realita!
dimana tanganku terantai oleh kata bernama "pekerjaan"
oleh pandangan-pandangan hidup yang dinamakan profesi

mereka bilang aku tak punya sayap
mereka bilang tak ada waktu untuk menaklukan himalaya
mereka bilang samudera sudah di arungi oleh nenek moyang kita
dan tak ada alat untuk melubangi dasar bumi

aku diminta menapakkan kaki di tanah

jiwaku meronta
mulutku terbungkam
gerakku terbatas

otakku terus berputar
mimpiku terus bermunculan
imajinasiku bermain-main liar di kepalaku

apakah hidup hanya sekedar mencari materi?
apakah hidup hanya sekedar demi mendapat pengakuan dari orang lain?

aku hanya ingin jadi orang benar

mengapa aku selalu dihadapkan pada realita yang tak sejalan dengan jiwaku?

rasa terenyuh melihat penderitaan
rasa bersalah saat tak mampu membantu
atau rasa tak berguna saat hanya mampu terdiam

aku tak ingin menjadi durhaka!
tapi aku juga ingin berjalan beriringan dengan jiwaku

saat ini aku hanya mampu terdiam
mencoba mencari celah ke permukaan
seperti setitik cahaya diangkasa
yang kadang tertutup gelapnya malam

dimanakah tempat jiwaku harusnya berlabuh...?

aku hanya ingin benar
aku hanya ingin berguna




gunung menjulang, samudera yang luas, dunia yang tanpa batas...
ingin rasanya ku kunjungi kalian...
berjalan jauh menapaki seluruh permukaan bumi...
sejengkal demi sejengkal... selangkah demi selangkah...
aku ingin mengukir sejarah hidupku, meski aku harus menulis diatas air, atau dengan pasir yang tertiup angin

mungkin ini hanya egoku
mungkin aku tengah jauh dari realita
mungkin juga aku yang terlalu banyak membaca buku hingga imajinasiku jauh melampaui realitasku

mereka bilang aku hanya cukup duduk manis 
menjalani dan memperdalam profesiku dengan baik
sehingga mampu mengumpulkan pundi-pundi uang untuk mampu bertahan hidup (atau bahkan melampaui kemampuan itu?)
mereka bilang aku harus membuang mimpiku, menahan egoku
mereka bilang ini bukan saatnya bermain
waktu dan usia sudah menunjukkan bukan saatnya lagi

tapi aku masih menyimpan mimpi itu...
aku rindu dimana aku bisa menapaki sejengkal demi sejengkal tanah dengan kakiku
meski peluh bercucuran dan rasa haus tak tertahankan
aku rindu menghirup udara alam bebas
dimana gemericik air terjun melantun di telingaku
hamparan hijau menyejukkan mataku
aku rindu dimana aku mampu membantu semampuku
meski itu hanya mengais sampah di jalanan
atau membantu mereka menyebrang jalan

duhai jiwaku... terlalu jauhkah kau bermimpi?
terlalu ingin bebaskah jiwamu ini?

aku masih mampu membantu sebisaku saat ini
aku masih mampu menapaki gunung, meski  tidak seperti dulu

tapi bukan keadaan saat ini yang ku inginkan
aku tak butuh harta berlebih
karena aku terbiasa dengan kesederhanaan sedari dulu
aku tak butuh pengakuan orang lain dengan memiliki profesi dokterku
aku hanya ingin ketulusan kalian terhadap diriku... bukan profesiku...

jiwaku... bersabarlah...


Jumat, 16 November 2012

Allah with Us

Engkau jauh aku pun jauh
Sayap-sayapku tiada pernah basah
Dan mataku tiada pernah kering karena merindukanmu
Ketika hati ini memanggilmu
Aku hampir kalah oleh kesedihanku
Jika Engkau tiada menghiburku"


Innamaa asykuu batsi wa huznii ilaallaahi
"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku"
(QS Yusuf [12]:86)



saat kita melihat langit tak lagi berwarna biru, dan awan tak lagi berarak riang
berganti awan kelabu yang merintikkan airnya menuju dasar bumi
dan burung tak lagi terbang diangkasa, bertengger mencari perlindungan di pohon yang rindang

hujan yang turun tak selalu berarti hari menjadi kelabu, meski banyak hal hanya bisa dilakukan di dalam rumah
bukan berarti aku tak lagi bisa berlari dipadang rumput yang hijau sambil meniup bunga dandelion yang terbang mengikuti arah angin
atau duduk manis diatas pasir pantai sambil melukis senja yang merona di ufuk barat

bukankah dibawah hujan aku masih bisa berjalan atau berlari?
tertawa riang sambil menari bersama hujan
merasakan setiap tetes hujan yang menyentuh kulit

hujan hanya sesaat... jangan dikesali ataupun di sesali...

apapun yang sedang terjadi pada diri kita,
jangan pernah takut menghadapinya, jangan pernah bersedih
karena Allah selalu bersama kita
Dia tidak akan pernah mengingkari janji-Nya pada setiap orang yang mempercayai kebesaran-Nya



Sabtu, 10 November 2012

Pahlawan yang Terlupakan

 
Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Hari dimana yang katanya kita mengenang jasa para pahlawan. Status Blackberry, Facebook, Twitter dan sosial media lainnya berisi tentang kata-kata yang membangun atau sekedar mengucapakan selamat hari pahlawan. Spanduk-spanduk di jalan pun berisi tentang hari pahlawan, bahkan ada SMS yang meminta sejenak untuk mengheningkan cipta untuk mengenang para arwah pahlawan. 
"Sebagai bangsa besar yang selalu menghargai jasa para pahlawannya, mari kita mengheningkan cipta sejenak selama 60 detik pada tanggal 10 November pukul 08.15 waktu setempat," demikian bunyi imbauan tersebut.

Namun, benarkah bangsa Indonesia begitu menghargai jasa para pahlawan?

Ironisnya masih ada di berita mengenai janda-janda pahlawan yang terlantar hidupnya. Para veteran pejuang kemerdekaan yang tidak sejahtera masa tuanya. Kemanakah pemerintah? Kemanakah kepedulian kita terhadap jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia?
 
 

Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Namun, kenapa masih ada veteran pejuang kemerdekaan dan janda pahlawan yang terlantar nasibnya? 
 
Harusnya pemerintah memiliki anggaran tersendiri yang di khususkan untuk para janda pahlawan dan veteran pejuang kemerdekaan, sebagai wujud terima kasih bangsa Indonesia kepada mereka yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya anggaran yang di khususkan, minimal kesejahteraan masa tua terjamin dan tidak ada lagi kisah terlantarnya veteran pejuang kemerdekaan dan janda pahlawan.

Toh, "anggaran" untuk korupsi saja ada, kenapa untuk mereka tidak ada? Padahal anggaran itu mungkin tidak sebesar "anggaran" korupsi yang dilakukan oleh para petinggi-petinggi pemerintahan. 

Mungkin inilah jiwa bangsa Indonesia yang telah terbuai oleh kemerdekaan dan melupakan jasa para pejuang yang telah rela menumpahkan darahnya demi sebuah kemerdekaan bangsa. Terbuai dengan kenyamanan kemerdekaan dan semakin berkurangnya rasa nasionalisme di dalam jiwa bangsa Indonesia.
 
Tidak hanya jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan saja yang dilupakan. Bahkan "pahlawan" yang telah mengharumkan nama negara Indonesia baik dalam bidang olah raga, sains maupun yang lainnya pun banyak yang terlantar. Inilah potret bangsa kita saat ini.

Wahai pahlawan pejuang kemerdekaan, maafkanlah kami yang tak mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia seutuhnya. Yang tak mampu menciptakan generasi penerus bangsa yang mampu membawa Indonesia ke dalam kemerdekaan sesungguhnya. Ternyata waktu 350 tahun dalam kebodohan penjajahan tak cukup untuk membuat jiwa bangsa ini bangun dan merdeka. Karena penjajahan tak lagi melalui perebutan wilayah atau negara. Tak lagi dengan pertumpahan darah dan alat-alat perang. Tak lagi perlu datang dengan kapal perang dan prajurit yang memegang senjata. 
Petinggi negara terbuai dengan uang dan kekuasaan. Budaya luar menjajah pemikiran bangsa kita. Generasi muda tak lagi peduli dengan rasa nasionalisme. Kemanakah negara ini akan dibawa? Generasi seperti apakah yang akan meneruskan bangsa ini?
 
Apakah mungkin kami hanya mampu menjadi bangsa yang mengenang jasa para pahlawan? Bukan menghargai dan meneruskan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya.