Minggu, 23 Desember 2012

Jangan Bersedih, Sahabatku

Sahabatku, jangan bersedih karena persoalan hidup yang ada dihadapanmu, karena perbedaan yang begitu besar tengah menghampirimu. Mengalah demi ego orang terpenting dalam hidup kita adalah hal yang mulia. Bersabarlah....
Bukankah kita sudah tahu dan mengerti konsekuensinya saat kita memutuskan untuk menerimanya menjadi pendamping hidup kita?
Bukankah kalian sudah saling mengerti banyaknya perbedaan diantara kalian?

Sahabatku, perbedaan diantara kalian mungkin akan sulit disatukan, karena perbedaan ada bukan untuk disatukan, tapi dipahami dan dimengerti oleh masing-masing jiwa, agar perbedaan itu tidak menjadi kentara dan dapat berjalan beriringan, bahkan saling melengkapi satu sama lain.
Antara langit dan bumi tak pernah ada penopang yang menghubungkannya. Tak terlihat tiang menjulang tinggi untuk mempertemukan mereka. Tapi diantaranya ada udara dan lapisan atmosfer. Keduanya tidak dapat dilihat, tapi dapat dirasakan. Keduanya lah yang menghubungkan langit dan bumi. Keduanya itu bagaikan chemistry atau kuasa Allah. Seperti halnya sifat kalian, akan sulit menyatu, tapi dapat saling melengkapi.

Seperti halnya dua insan yang memiliki perbedaan sifat bertemu. Mereka saling jatuh cinta. Sang laki-laki terlihat dewasa, pemikir, segala hal terencana dan realistis. Si wanita sangat ceria, energik, imajinatif bahkan terkadang ceroboh dan sang pemimpi. Sifat mereka tak bisa disatukan sahabatku. Tapi mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.
Mungkin lebih jelas perbedaan itu saat aku tuliskan:
Langit vs bumi
Dewasa vs Anak-anak
Realistis vs Imajinatif
Sang Pemikir vs Sang Imajinatif
Otak Kiri vs Otak Kanan

Begitu kentara perbedaan itu. Tapi tahukah sahabatku, adakalanya kehidupan keras orang dewasa dan monoton butuh polesan warna-warni dari wanita yang selalu ceria dan enerjik supaya hati mereka melembut. Atau wanita yang terlalu ceria dan polos harus dibimbing oleh laki-laki yang berpikir dewasa supaya lebih terarah hidupnya.
Bisa saja sang pemikir lelah dengan realitas yang begitu penat dan ingin bersandar pada si imajinatif yang santai dan damai. Atau sang imajinatif yang lelah berpetualang di dunia mimpi dan butuh seorang yang realistis untuk membawanya kembali ke dunia nyata.
Layaknya otak kiri dan otak kanan, meskipun memiliki perbedaan fungsi, tapi mereka tetap saling melengkapi.

Semua membutuhkan pemahaman diantara keduanya. Tidak mungkin kita bisa merubah diri seseorang tanpa persetujuan hatinya. Keduanya harus saling mampu menekan ego masing-masing. Seandainya hanya salah satu yang mampu, bersabarlah.. dan teruslah berusaha memberikan pemahaman dengan kata-kata dan contoh yang nyata dan baik, tentunya dengan doa yang tulus untuk dirinya juga agar mampu dilembutkan hatinya oleh Sang Maha Kuasa.

Sahabatku, perbedaan itu tidak hanya akan kentara dikedua orang itu, tapi begitu juga diantara orang-orang terdekatnya.
Teman-teman si realistis pasti akan berpikir si imajinatif tak akan mungkin bisa menyeimbangkan kecerdasan si realistis. Bahkan teman si imajinatif pun akan berpikir bagaimana mungkin si imajinatif mendapatkan si realistis yang hidupnya kadang monoton dan harus perfect.

Tapi, bukankah peduli apa dengan pemikiran-pemikiran mereka, kalau kalian berdua mampu saling melengkapi dan memahami? Kalau kalian mampu saling berjalan beriringan dan mampu salling mengimbangi kelebihan dan kekurangan kalian.

Mungkin ini yang harus dipahami saat kita mencintai/menyayangi orang yang sifatnya berbeda jauh dengan kita. Memahami bahwa kenyataan salah satu harus ada yang mengalah pasti akan terjadi. Tapi alangkah baiknya tidak hanya satu pihak yang selalu mengalah. Keduanya harus tahu dan mengerti posisi masing-masing. Tapi diantara kedua insan yang memiliki sifat yang berbeda, pasti tetap memiliki persamaan. Entah hobi kalian, cara pandang kalian, atau yang lainnya.

Sahabatku, katamu cinta membuat kita buta, dan pernikahan membuat kita membuka mata. Saat kita jatuh cinta memang semua terasa indah. Perbedaan seakan tidak berarti. Yang ada dihati kita semuanya hanya tentang dia dan dia. Karena begitu banyak hormon yang bekerja saat kita jatuh cinta. Aku bilang saat jatuh cinta inilah saat imajinatif kita. Namun saat menikah, barulah mata kita terbuka. Begitu banyak perbedaan di depan mata, dari hal terkecil sampai hal terbesar. Jika kita hanya mengandalkan ego, semua akan terasa jauh dan berat. Maka kita tidak hanya harus membuka pancaindera kita, tapi juga mata hati kita. Dan inilah saat realitas kita. Mungkin inilah saatnya kamu belajar yang namanya kearifan dan kebijaksanaan. Memahami segala sesuatunya tidak dengan ego, tapi dengan berpikir jernih dan melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Cobaan dan tantangan pasti ada, tapi itulah hidup. Hidup itu tidak ada yang pasti. Hidup selalu berada dalam ketidak pastian. Ketidak pastian apakah besok akan tetap berjalan lancar seperti hari ini? Atau ketidak pastian apakah kita masih bisa menikmati dunia yang fana ini?

Sahabatku, tetaplah berdoa dan mengingat Allah disetiap hembus napas kita. Karena Allah lah yang mampu membolak balikan hati manusia dan yang mampu melembutkan hati yang keras. Tetaplah menjadi orang yang penuh kesabaran seperti biasanya. Jangan pernah berkata lelah. Aku tahu perjalanan hidupmu amatlah berliku dan butuh kesabaran ekstra, tapi itulah adanya dirimu. Perjalanan hidupmulah yang membuatmu menjadi wanita tersabar yang pernah aku kenal, terkuat yang pernah aku tahu, dan selalu ceria meski badai menerpamu.

Ingatkah kita pernah bilang kita ini sama? Sifat kita tidak jauh berbeda (meski tetap ada perbedaan)? Jika ada yang bertanya seperti apa sifatmu kepadaku, maka aku akan jawab, lihatlah aku. Begitu juga sebaliknya. Maka saat kamu merasa tidak nyaman, tertekan, lelah dan sedih, aku mengerti yang kamu rasakan. Mungkin sabarku tidak sesabar dirimu, semoga kita bisa saling belajar satu sama lain mengenai kekurangan kita :)

"Bila dunia telah disempitkan orang lain, maka bangunlah alam semesta di dalam dada"

Sahabatku, sesungguhnya aku tak pantas  mengatakan semua ini kepadamu. Aku belum pernah menikah, mana mungkin aku mengerti dan tahu suka duka pernikahan. Aku pun orang yang sulit jatuh cinta, jadi aku tak mengerti saat kamu katakan cinta membuat kita buta. Mungkin kata-kata ini juga sindiran untuk diriku. Setidaknya, inilah pikiran jernihku saat ini untukmu. Semoga aku bisa menenangkan hatimu, bukan malah memperburuk pikiranmu :)

Tetaplah bercerita dan berkeluh kesah kepadaku, sahabatku. Entah berkali-kali ataupun ribuan kali kau ulang keluh kesahmu, akan tetap aku dengarkan. Tetaplah bercerita kepadaku, karena artinya kau tetap percaya padaku, sahabatku. Jangan bersedih, karena aku selalu ada untukmu dan akan dengan setia mendengar keluh kesahmu.

love u my bestfriend,
- indah puji lestari-

Masih ingatkah kata-kata kita ini?
"Yang ditakutkan wanita setelah menikah adalah bukan hidup miskin, tapi dipoligami/diselingkuhi, dan tak bisa saling memahami"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar