Rabu, 13 Februari 2013

Aku dan Kawat Gigi

Awal tahun 2012 termasuk melelahkan untukku. Selain banyaknya kegiatan, ditambah dengan memakai kawat gigi di akhir tahun 2012 kemarin. Permasalahannya, aku sama sekali tidak bisa makan. Bahkan untuk mengunyah nasi sekalipun aku tidak bisa. Hari-hari jadi mengesalkan karena tidak bisa makan makanan yang kusukai. Hanya bisa mencium enaknya wangi masakan, namun tidak mampu memakannya membuat tingkat emosi sedikit meningkat. Bahkan jadi lebih cepat marah. Gigi terasa ngilu, mengunyah makanan yang lembut pun tak mampu. Alhasil, selama 2 bulan hanya menelan bubur yang akhirnya membuat aku bosan dan mual karena tidak ada pilihan makanan. Kalaupun terpaksa harus makan nasi, itupun langsung di telan, tidak dikunyah. 

Entah apa yang terjadi dengan gigi ini. Disaat orang-orang yang memakai kawat gigi mampu untuk bisa mengunyah pada hari ke-3 sampai 1 minggu (atau yang paling lama 2 minggu), aku malah tidak bisa makan sama sekali. Semua terasa ngilu, makanan tidak ada yang mampu tergigit oleh gigi geraham. Bahkan anjuran sebulan lagi kembali ke dokter gigi, hanya dalam hitungan 1 atau 2 minggu aku sudah kembali. Sang dokter pun keheranan. Dalam sebulan berat badan turun sebanyak 3-3,5 kg. Disatu sisi senang berat badan bisa turun dengan cepat, namun disatu sisi lain khawatir dengan penurunan yang terlalu cepat. Akhirnya, aku akali dengan makan dimalam hari (lebih tepatnya menelan bubur). Makan malam selalu berhasil membuat lebih cepat gemuk ketimbang makan dipagi/siang hari. Akhirnya, dalam 2 bulan turun berat badan 5,5 kg. 

Akhirnya setelah 2 bulan berlalu, dan dokter gigi pun tak berhasil meyakinkan aku bahwa rasa sakit itu pasti akan hilang, aku memutuskan untuk melepas kawat gigi. Sungguh, aku ingin makan seperti semula, tidak mimpi buruk setiap malam, tidak emosi setiap hari. Well, sejak awal memang banyak yang mengatakan aku tidak usah memakai kawat gigi. Gigi gingsulku sudah cukup bagus dan gigi lain yang tidak rapi tertutupi oleh gingsulku. Yah, tapi namanya manusia pasti penasaran sebelum mencoba :P

Satu pelajaran dari memakai kawat gigi ini: Aku jadi lebih mengerti, kenapa sering ada berita/cerita pengemis mencuri makanan. Bayangkan saat perut kita lapar tidak mampu makan berhari-hari, tapi setiap hari selalu mencium wangi masakan yang enak namun kita tak mampu untuk memakannya. Itu sungguh menyiksa. Bila puasa, kita masih bisa makan enak saat sahur/berbuka. Bila malas makan, kita masih bisa makan makanan enak saat kita sudah ingin makan. Namun, bila tak mampu makan?


Senin, 04 Februari 2013

Hujan, Doa, Pelangi - Tujuh Hari Melukis Pelangi



Icha memandangi rintik hujan melalui kaca jendela kamarnya sambil memeluk boneka jerapahnya yang lebih besar dari badannya.. Bulir-bulir hujan yang jatuh ke kaca jendela seakan mirip dengan tetes-tetes air mata di penglihatannya. Anak umur 4 tahun itu tampak murung menatap hujan. Dipandanginya mata jerapah yang bulat besar seperti matanya itu.

"Kirin, hujan turun lagi. Icha ga bisa main sama Zahra, Widya dan Alif di taman depan." ucapnya sendu sambil kemudian memeluk jerapahnya lagi yang diberi nama Kirin.
Kirin adalah boneka Jerapah kesayangan Icha. Boneka ini oleh-oleh Ayah pulang dari Jepang saat beliau mendapat tugas ke negeri matahari terbit 6 bulan yang lalu. Saat itu Icha merasa bahagia sekali mendapat boneka yang melebihi tingginya.

"Ayah, boneka ini lebih tinggi dari icha!," ucapnya senang sambil memeluk boneka saat itu. "Icha suka boneka ini, bonekanya lucu. Matanya bulat, bulu matanya lentik, lehernya panjang dan ada pita besar di kupingnya."

Ayah, bunda dan Kak Ichal hanya tertawa melihat Icha yang bahagia mendapat boneka jerapah yang besar.

Ayah mendekati Icha dan berkata dengan lembut, "Nama boneka ini, Kirin. Yang artinya jerapah dalam bahasa jepang."

Icha memandangi Kirin dengan takjub. "Whoaaa Kirin. Namanya cantik. Icha bisa panggil Kiki, Riri, Iin, Kiyin, Icin, Kirilin,.... " belum selesai icha menyebutkan nama panggilan untuk Kirin, Ichal memotongnya.

"Banyak amat Cha? Agak aneh buat nama jerapah. Kirin aja, udah bagus kok," ucap Ichal sambil menggelengkan kepala.

Icha cemberut. Ide-ide nama panggilan untuk Kirin dikepalanya yang masih banyak itu jadi buyar. 

"Kirinn! Kiyiinnn Kiyiinnn," teriaknya memanggil bonekanya sambil dipeluknya gemas. "Gigi kamu lucu, cuma ada dua di depan kayak gigi Icha."

Ayah, bunda, dan kak Ichal hanya tertawa melihat si kecil Icha.

Sekarang, Kirin selalu menemani Icha kemanapun. Tidur, makan, nonton teve, main dengan teman-teman, bahkan Icha menangis saat bunda tidak mengijinkan kirin dibawa ke sekolahnya di TK.

"Kenapa bunda? Kirin kan juga harus sekolah biar pintar, biar belajar bareng Icha dan teman-teman."

Saat itu bunda dengan lembut dan sabar memberikan pengertian pada Icha. Akhirnya, yang berhasil membujuk Icha adalah Kak Ichal. Dengan perjanjian Ichal akan mengijinkan Kirin ikut mengaji setiap habis maghrib. Tentu ini membuat kelabakan Ichal karena setiap habis maghrib, mau tidak mau, Ichal harus memperagakan suara boneka, berpura-pura menjadi Kirin yang sedang mengaji. Tidak hanya itu, Icha juga ingin setiap ayah, bunda atau kak Ichal memanggilnya, nama kirin juga harus disebut. 

Seperti sekarang ini, saat Icha tengah sedih di kamar, bunda memanggilnya.

"Ichaaa... Kirinnn," panggil bunda dengan lembut sambil membuka pintu kamar Icha yang berwarna merah jambu. "Kok, putrinya Bunda wajahnya cemberut sihhh," tanya Bunda sambil duduk disamping Icha.

"Kapan hujan berhenti Bunda? Kenapa harus ada hujan? Jemuran Bunda jadi ga kering, Icha ga bisa main bareng temen-temen, Kak Ichal belum pulang dari sekolah, jalanan jadi banjir, bahkan Rayhan dan Mia sakit karena kena hujan," tanya Icha panjang.

Bunda tersenyum lembut mendengar pertanyaan Icha yang selalu ingin tahu dan kritis. "Bunda tidak bisa menentukan kapan hujan berhenti sayang. Hujan itu datangnya dari Allah untuk seluruh makhluk di bumi ini.  Untuk bunga-bunga di taman supaya mekar dengan indah, untuk ikan-ikan disungai, sawah dan danau supaya tidak mati kekeringan, dan untuk rumah-rumah yang kekeringan air. Hujan itu rahmat dari Allah. Nah, daripada Icha dan Kirin cemberut sama hujan, lebih baik kita membaca doa hujan dan berdoa pada Allah."

Icha memandang bunda dengan takjub. Lupa dengan kekesalannya pada hujan yang ia utarakan barusan. "Ada doa hujan juga Bunda? Ayo ajarkan pada Icha, Bunda. Supaya Icha bisa minta hujan berhenti pada Allah dan Icha bisa main sama teman-teman."

"Iya sayang. Ikutin Bunda ya. Allahumma... Shayyiban...Naafi'an...."

Icha mengikuti doa hujan yang di ucapkan bunda dan mengulangnya berkali-kali sampai hapal.

"Icha dan Kirin tahu, Rasulullah bilang, doa yang terkabul itu ada di dua waktu, yaitu saat adzan berkumandang, dan saat hujan turun," jelas bunda dengan tersenyum lembut.

"Wahhh hujan itu berarti rahmat dari Allah ya Bunda. Icha mau berdoa yang banyak sama Allah sekarang. Ayo kita berdoa Kirin!" kemudian memejamkan mata dan berdoa.

Bunda hanya menggelengkan kepala melihat reaksi Icha. 

Dalam hati, banyak doa yang dipanjatkan Icha untuk ayah, bunda, kak Ichal, teman-teman dan semua makhluk di muka bumi ini. Icha juga berdoa semoga hujan tidak terlalu lama dan tidak ada rumah yang kebanjiran. Tak lupa Icha juga berdoa untuk Kirin. Supaya Kirin selalu bisa menemani Icha dan menjadi lebih pintar. Icha juga meminta pada Allah setelah hujan nanti muncul pelangi karena sudah lama Icha tidak melihat pelangi.

"Aaamiiin," Icha tersenyum lebar pada bunda.

"Ayo ke meja makan, Bunda sudah buatkan puding cokelat kesukaan Icha," ajak bunda.

"Asiikkk! Terima kasih bunda sayang" teriak Icha sambil memeluk bunda.

Bunda memeluk Icha dengan hangat.

"Hujan berhenti bunda!" Icha langsung melepaskan pelukannya saat telinganya sudah tidak mendengar suara rintik hujan lagi.
Ia mendekat ke jendela dan memastikan hujan memang sudah berhenti.

"Ayo, kita makan pudingnya di taman bersama Widya, Zahra dan Alif," Ajak bunda.

Icha tersenyum bahagia. Ia membawa Kirin keluar kamar dan mengikuti bunda dengan riang. Dalam hati, Icha mengucapkan terima kasih kepada Allah karena mendengarkan doa Icha.

Icha membuka pintu rumah dan berjalan menuju taman di depan kompleks bersama bunda dan kirin. Icha terdiam.

"Bunda! Allah mengabulkan doa Icha lagi. Lihat Bunda! Ada pelangi yang cantik!" Icha berteriak lagi sambil menunjuk pelangi yang indah di sore hari. 

Bunda tersenyum. "Jadi, Icha ga boleh cemberut lagi ya setiap hujan turun," ucap bunda pada Icha yang diiringi dengan anggukan Icha.

Zahra, Widya dan Alif juga sudah berada di taman. Siap-siap menikmati puding cokelat buatan bunda yang lezat sambil menikmati pelangi di sore hari.


Doa Icha di dalam hati:
Ya Allah, Icha dan Kirin memohon kepadamu semoga hujan cepat berhenti supaya Icha dan Kirin bisa main bersama Widya, Zahra dan Alif sore ini
Icha juga mohon semoga ada pelangi setelah hujan turun nanti. Icha kangen liat pelangi ya Allah
Semoga ayah dan bunda selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang, dan selalu sayang pada Icha dan Kirin
Semoga Kak Ichal selalu baik pada Icha dan sabar mengajari Icha mengaji
Semoga Kirin selalu ada disamping Icha dan menemani Icha bermain
Semoga teman-teman selalu sehat dan tidak sakit
Semoga bunga-bunga bisa bermekaran, ikan-ikan bisa berenang dan jalanan tidak banjir karena hujan
Kabulkan doa Icha ya Allah... Maaf tadi Icha cemberut pada hujan
Aaamiiin




Tujuh Hari Melukis Pelangi

Entah apa yang terbayang saat terbesit judul ini. Yang ada di otak ku sebelumnya bukanlah judul ini. Hanya kata P-E-L-A-N-G-I dan H-A-R-I.

Dimulai dari kata pelangi. Warna warninya yang cantik seakan memberi inspirasi. Seperti Judul novel Andrea Hirata "Laskar Pelangi", bukankah terdengar indah dan penuh makna? Terdengar cantik namun menawan. Keinginan menulis novel yang tak kunjung juga selesai karena cepat dilanda kebosanan (mungkin lebih tepatnya kehabisan ide), akhirnya memutuskan untuk mebuat cerita singkat dan simpel. Tak perlu berbelit, namun makna yang tersirat dan tersurat bisa tersampaikan.

Kata Hari muncul karena ingin sekali memasukan warna warni pelangi yang mejikuhibiniu ke dalam kehidupan sehari-hari seorang gadis kecil yang polos, imajinatif dan ceria. Seperti warna pelangi yang selalu bisa memberi ketenangan bagi setiap orang yang tengah dilanda masalah, musibah atau ujian.

Bukankah setelah hujan turun akan muncul pelangi yang memberi keindahan di bumi ini?

Merah - Jingga - Kuning - Hijau - Biru - Nila - Ungu

Pelangi memiliki tujuh warna yang mewakili tujuh hari Irisa Wardania Aurora yang selalu ceria, imajinatif dan indah.