Senin, 04 Februari 2013

Hujan, Doa, Pelangi - Tujuh Hari Melukis Pelangi



Icha memandangi rintik hujan melalui kaca jendela kamarnya sambil memeluk boneka jerapahnya yang lebih besar dari badannya.. Bulir-bulir hujan yang jatuh ke kaca jendela seakan mirip dengan tetes-tetes air mata di penglihatannya. Anak umur 4 tahun itu tampak murung menatap hujan. Dipandanginya mata jerapah yang bulat besar seperti matanya itu.

"Kirin, hujan turun lagi. Icha ga bisa main sama Zahra, Widya dan Alif di taman depan." ucapnya sendu sambil kemudian memeluk jerapahnya lagi yang diberi nama Kirin.
Kirin adalah boneka Jerapah kesayangan Icha. Boneka ini oleh-oleh Ayah pulang dari Jepang saat beliau mendapat tugas ke negeri matahari terbit 6 bulan yang lalu. Saat itu Icha merasa bahagia sekali mendapat boneka yang melebihi tingginya.

"Ayah, boneka ini lebih tinggi dari icha!," ucapnya senang sambil memeluk boneka saat itu. "Icha suka boneka ini, bonekanya lucu. Matanya bulat, bulu matanya lentik, lehernya panjang dan ada pita besar di kupingnya."

Ayah, bunda dan Kak Ichal hanya tertawa melihat Icha yang bahagia mendapat boneka jerapah yang besar.

Ayah mendekati Icha dan berkata dengan lembut, "Nama boneka ini, Kirin. Yang artinya jerapah dalam bahasa jepang."

Icha memandangi Kirin dengan takjub. "Whoaaa Kirin. Namanya cantik. Icha bisa panggil Kiki, Riri, Iin, Kiyin, Icin, Kirilin,.... " belum selesai icha menyebutkan nama panggilan untuk Kirin, Ichal memotongnya.

"Banyak amat Cha? Agak aneh buat nama jerapah. Kirin aja, udah bagus kok," ucap Ichal sambil menggelengkan kepala.

Icha cemberut. Ide-ide nama panggilan untuk Kirin dikepalanya yang masih banyak itu jadi buyar. 

"Kirinn! Kiyiinnn Kiyiinnn," teriaknya memanggil bonekanya sambil dipeluknya gemas. "Gigi kamu lucu, cuma ada dua di depan kayak gigi Icha."

Ayah, bunda, dan kak Ichal hanya tertawa melihat si kecil Icha.

Sekarang, Kirin selalu menemani Icha kemanapun. Tidur, makan, nonton teve, main dengan teman-teman, bahkan Icha menangis saat bunda tidak mengijinkan kirin dibawa ke sekolahnya di TK.

"Kenapa bunda? Kirin kan juga harus sekolah biar pintar, biar belajar bareng Icha dan teman-teman."

Saat itu bunda dengan lembut dan sabar memberikan pengertian pada Icha. Akhirnya, yang berhasil membujuk Icha adalah Kak Ichal. Dengan perjanjian Ichal akan mengijinkan Kirin ikut mengaji setiap habis maghrib. Tentu ini membuat kelabakan Ichal karena setiap habis maghrib, mau tidak mau, Ichal harus memperagakan suara boneka, berpura-pura menjadi Kirin yang sedang mengaji. Tidak hanya itu, Icha juga ingin setiap ayah, bunda atau kak Ichal memanggilnya, nama kirin juga harus disebut. 

Seperti sekarang ini, saat Icha tengah sedih di kamar, bunda memanggilnya.

"Ichaaa... Kirinnn," panggil bunda dengan lembut sambil membuka pintu kamar Icha yang berwarna merah jambu. "Kok, putrinya Bunda wajahnya cemberut sihhh," tanya Bunda sambil duduk disamping Icha.

"Kapan hujan berhenti Bunda? Kenapa harus ada hujan? Jemuran Bunda jadi ga kering, Icha ga bisa main bareng temen-temen, Kak Ichal belum pulang dari sekolah, jalanan jadi banjir, bahkan Rayhan dan Mia sakit karena kena hujan," tanya Icha panjang.

Bunda tersenyum lembut mendengar pertanyaan Icha yang selalu ingin tahu dan kritis. "Bunda tidak bisa menentukan kapan hujan berhenti sayang. Hujan itu datangnya dari Allah untuk seluruh makhluk di bumi ini.  Untuk bunga-bunga di taman supaya mekar dengan indah, untuk ikan-ikan disungai, sawah dan danau supaya tidak mati kekeringan, dan untuk rumah-rumah yang kekeringan air. Hujan itu rahmat dari Allah. Nah, daripada Icha dan Kirin cemberut sama hujan, lebih baik kita membaca doa hujan dan berdoa pada Allah."

Icha memandang bunda dengan takjub. Lupa dengan kekesalannya pada hujan yang ia utarakan barusan. "Ada doa hujan juga Bunda? Ayo ajarkan pada Icha, Bunda. Supaya Icha bisa minta hujan berhenti pada Allah dan Icha bisa main sama teman-teman."

"Iya sayang. Ikutin Bunda ya. Allahumma... Shayyiban...Naafi'an...."

Icha mengikuti doa hujan yang di ucapkan bunda dan mengulangnya berkali-kali sampai hapal.

"Icha dan Kirin tahu, Rasulullah bilang, doa yang terkabul itu ada di dua waktu, yaitu saat adzan berkumandang, dan saat hujan turun," jelas bunda dengan tersenyum lembut.

"Wahhh hujan itu berarti rahmat dari Allah ya Bunda. Icha mau berdoa yang banyak sama Allah sekarang. Ayo kita berdoa Kirin!" kemudian memejamkan mata dan berdoa.

Bunda hanya menggelengkan kepala melihat reaksi Icha. 

Dalam hati, banyak doa yang dipanjatkan Icha untuk ayah, bunda, kak Ichal, teman-teman dan semua makhluk di muka bumi ini. Icha juga berdoa semoga hujan tidak terlalu lama dan tidak ada rumah yang kebanjiran. Tak lupa Icha juga berdoa untuk Kirin. Supaya Kirin selalu bisa menemani Icha dan menjadi lebih pintar. Icha juga meminta pada Allah setelah hujan nanti muncul pelangi karena sudah lama Icha tidak melihat pelangi.

"Aaamiiin," Icha tersenyum lebar pada bunda.

"Ayo ke meja makan, Bunda sudah buatkan puding cokelat kesukaan Icha," ajak bunda.

"Asiikkk! Terima kasih bunda sayang" teriak Icha sambil memeluk bunda.

Bunda memeluk Icha dengan hangat.

"Hujan berhenti bunda!" Icha langsung melepaskan pelukannya saat telinganya sudah tidak mendengar suara rintik hujan lagi.
Ia mendekat ke jendela dan memastikan hujan memang sudah berhenti.

"Ayo, kita makan pudingnya di taman bersama Widya, Zahra dan Alif," Ajak bunda.

Icha tersenyum bahagia. Ia membawa Kirin keluar kamar dan mengikuti bunda dengan riang. Dalam hati, Icha mengucapkan terima kasih kepada Allah karena mendengarkan doa Icha.

Icha membuka pintu rumah dan berjalan menuju taman di depan kompleks bersama bunda dan kirin. Icha terdiam.

"Bunda! Allah mengabulkan doa Icha lagi. Lihat Bunda! Ada pelangi yang cantik!" Icha berteriak lagi sambil menunjuk pelangi yang indah di sore hari. 

Bunda tersenyum. "Jadi, Icha ga boleh cemberut lagi ya setiap hujan turun," ucap bunda pada Icha yang diiringi dengan anggukan Icha.

Zahra, Widya dan Alif juga sudah berada di taman. Siap-siap menikmati puding cokelat buatan bunda yang lezat sambil menikmati pelangi di sore hari.


Doa Icha di dalam hati:
Ya Allah, Icha dan Kirin memohon kepadamu semoga hujan cepat berhenti supaya Icha dan Kirin bisa main bersama Widya, Zahra dan Alif sore ini
Icha juga mohon semoga ada pelangi setelah hujan turun nanti. Icha kangen liat pelangi ya Allah
Semoga ayah dan bunda selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang, dan selalu sayang pada Icha dan Kirin
Semoga Kak Ichal selalu baik pada Icha dan sabar mengajari Icha mengaji
Semoga Kirin selalu ada disamping Icha dan menemani Icha bermain
Semoga teman-teman selalu sehat dan tidak sakit
Semoga bunga-bunga bisa bermekaran, ikan-ikan bisa berenang dan jalanan tidak banjir karena hujan
Kabulkan doa Icha ya Allah... Maaf tadi Icha cemberut pada hujan
Aaamiiin




Tidak ada komentar:

Posting Komentar