Senin, 28 Januari 2013

Banjir Jakarta

Bismillah,
Akhirnya hari jumat, 18 Januari 2013 merapat juga ke Jakarta, tepatnya di Jatinegara, di sudinkes (suku dinas kesehatan) Jaktim. Setelah selama beberapa hari hanya melihat berita mengenai banjir di ibu kota melalui televisi, akhirnya dr. Azizah mengajak ku untuk ikut menjadi relawan selama 3-4 hari, dibawah naungan PB IDI.

Hari jumat pagi berangkat dari Tangerang menuju jakarta. Cuaca mendung dan sempat hujan selama perjalanan. Berharap hujan tidak turun terlalu lama dan air tidak semakin tinggi. Akhirnya kami bertemu di FK UI Salemba, untuk selanjutnya merapat ke Jatinegara dan bertemu dengan teman-teman IDI.

Kegiatan dimulai setelah shalat Jum'at. PB IDI bekerja sama dengan ICR LKMI dan ISMKI. Setelah dijelaskan mengenai teknis kegiatan oleh dr. Ardiansyah, kami akan dibagi menjadi dua posko, di Kp.Pulo rw 03 dan di mushala Khairul Anam yang tidak jauh dari sudinkes. Kami diantar menuju posko dengan ambulance. Hari pertama, aku dan dr. Azizah bertugas di posko mushala Kahirul Anam. Karena hari itu obat-obatan untuk dewasa belum datang, maka kami utamakan pengobatan dilakukan untuk anak-anak terlebih dahulu. Alhamdulillah posko ini berada di dalam rumah salah satu bapak yang sangat baik dan ramah. Semoga Allah menerima amal ibadah bapak dan menggantinya dengan yang lebih baik. Aamiin. Hari itu, keluhan diwarnai dengan ISPA, Penyakit kulit dan diare.
Menjelang maghrib kami menutup posko dan berkumpul kembali di sudinkes untuk briefing esok hari. Di lanjut dengan makan malam bersama di RM Pak Kumis.

Hari Kedua-Sabtu, aku, dr. Azizah, dan dr. Hartati bertugas di posko kesehatan Kp.Pulo bersama dengan relawan perawat yang baru hari itu datang. Keluhan pengungsi masih sama dengan kemarin, ISPA, penyakit kulit dan diare. Di Kp.Pulo banyak dari stasiun televisi meliput lokasi banjir. Banyak pula posko-posko relawan yang berdiri di sepanjang jalan. Para pengungsi tidur di dalam tenda yang telah disediakan.

Hari ketiga-Ahad, kami merapat ke Penjaringan, Pluit, untuk mendampingi Pak JK. Namun sayang, karena kami sempat salah arah, akhirnya kami tidak bertemu dengan beliau. Banjir di daerah Pluit masih cukup tinggi. Bahkan kami harus menyewa "perahu" untuk menuju posko PMI, tempat yang kami tuju. Meski harus naik perahu sewaan dan melewati banjir, kami tetap menikmati tugas dan selalu ceria.
Siangnya kami sempatkan makan bersama di Solaria Mall Kalibata dan kemudian menuju mobil tangki air bersih yang sudah disiapkan untuk penungsi sejak semalam.



Hari keempat-Senin, banyak pengungsi yang mulai kembali ke rumahnya karena air sudah surut. Kami memutuskan hanya membuka satu posko. Rencana awal di Kp.Pulo, namun karena dirasa tempat sudah tidak kondusif, kami pindah ke mushala Khairul Anam. Pasien tidak terlalu banyak. Maka saat siang hari, kami memutuskan untuk menutup posko.

Dilanjut posko kesehatan di hari Jumat di Rusunawa daerah Muara Baru, Penjaringan. Kami bekerjasama dengan PMI Jakarta Utara, yang ternyata di pimpin oleh dr. Zaenab, salah satu dokter pembimbing kami di RSIJ Sukapura saat menjalani masa coAss dulu.
Posko IDI di Rusunawa ini sebenarnya sudah dimulai sejak hari Kamis, namun, aku baru bisa ikut bergabung hari Jumat ini bersama dr. Azizah, dr. Hartati, dan dr. Marsaban.






Aku dan dr. Azizah pun sempat ikut baksos dua kali (hari Rabu daerah Penjaringan dan Minggu di daerah Kelapa Gading) dari Bakesguna SOKSI.

Hari-hari yang melelahkan namun menyenangkan karena bisa berguna bagi orang lain. Saat kondisi keuangan tidak memungkin untuk membantu, bukankah kita masih memiliki keahlian dan tenaga untuk membantu yang lainnya? Uang bukanlah tolok ukur untuk segalanya.

Sabtu, 05 Januari 2013

Menyelami "Ujian" Hidup



Masalah atau ujian hidup bisa datang kapan pun dan dimana pun tanpa kita duga, siap tidak siap, mau tidak mau. Semua muncul karena refleksi dari perkataan atau perilaku kita (baik atau tidak baik) yang kadang muncul dari orang yang tidak menyukai kita, atau akibat dari diri kita sendiri.

Saat masalah datang menimpa, kita tidak bisa menganggap diri kita paling benar, paling hebat dan tidak "ambil andil" dalam masalah tersebut. Karena sadar atau tidak sadar, kadang kita juga ikut "memoles" masalah muncul kepermukaan. Menilai diri sendiri paling benar adalah cara berpikir yang sempit... Sombong. Dan menilai orang yang membenci kita sebagai orang yang jahat juga cara berpikir yang sempit... Tidak bijak.

Mereka yang dibenci dan mereka yang membenci seperti dua kutub magnet yang saling tarik menarik dari dua magnet yang berbeda. Saling memikirkan, saling terpancing emosi, saling mencari tahu walaupun tidak ingin tahu, dan selalu memantau setiap gerak gerik orang tersebut. Energi terbuang percuma karena emosi sesaat sebelum kita dapat menenangkan diri dan berpikir jernih.

Masalah -suka tidak suka- adalah sebuah pelajaran hidup dan memiliki banyak hikmah yang dapat "dirasakan" dan "diambil" diakhir penyelesaian masalah tersebut. Tak mungkin orang hidup tanpa masalah. Dan setiap masalah ada taraf tingkatannya. Ada masalah kecil yang tak terasa sehingga kita tak ambil pusing, sampai masalah besar yang membuat kita sulit tidur dan emosi menjadi bergejolak.

Masalah adalah pengujian terhadap diri kita sendiri. Dari masalah yang muncul, kita akan dinilai, apakah kita dewasa dalam menyikapi masalah? Jernihkah kita dalam berpikir? Bijak kah kita dalam menilai orang lain? Mampukah kita melihat segala permasalah dalam perspektif yang luas dengan berbagai sudut pandang yang berbeda?

Hal yang paling menarik saat "terjerambab" dalam sebuah masalah adalah saat kita coba "menyelami" jiwa si "pembuat masalah." Mengapa dia sampai tidak menyukai diri kita? Mengapa dia berkoar-koar mengenai diri kita? Adakah yang salah di matanya mengenai kata-kata, sifat dan sikap kita, baik yang tertuju padanya maupun tidak? Karena apabila seseorang sudah diliputi rasa tidak suka/benci terhadap orang lain, maka apapun yang dilakukan oleh orang tersebut akan selalu nampak salah di matanya. Ataukah memang ada yang salah dengan "jiwa" dan cara berpikirnya? Dengan mencoba menempatkan diri menjadi orang tersebut, kita menjadi bisa lebih sedikit memahami kondisi kejiwaannya. Kita pun akan dibuat penasaran sehingga kadang membuat analisis yang tak terduga.

Jadi, coba posisikan diri kita adalah dirinya. Luaskan cara berpikir dan sudut pandang kita mengenai keseluruhan dirinya. Bagaimana jika seandainya diri kita adalah dia?

Tak memungkiri kita pasti merasa paling benar dan tidak merasa bersalah. Ini adalah reaksi awal saat ada ketidak sesuaian atau masalah yang datang kepada diri kita. Emosi menjadi tidak stabil sebelum kita dapat berpikir dengan jernih.

Melarikan diri dari masalah adalah sikap pengecut. Mendiamkannya bukanlah jalan yang terbaik. Membalas dengan kejahatan bukanlah tindakan yang bijak.

Seberat apapun cobaan yang tengah dihadapi, semoga dapat membuat diri kita lebih dewasa dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Jangan mengumbar kekesalan dengan marah-marah, mencaci maki dan mengeluarkan kata-kata tidak sopan di sosial media. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat menimbulkan masalah baru. Kita pun akan mendapat kesan negatif dari setiap orang yang membaca status kita di akun sosial.

Saat masalah datang, cobalah untuk tetap berpikir jernih agar pikiran positif tetap bersemayam di otak kita. Cari tahu sumber masalah, pahami, dan selesaikan dengan baik, tanpa emosi. Berusahalah untuk tetap tenang dan hadapi dengan sikap dewasa dan bijak. Untuk inilah masalah ada di dunia ini. Untuk mengajarkan diri kita bahwa hidup tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. 

Hidup memang tidak akan selalu berdamai dengan diri kita, tapi berusahalah untuk terus mendamaikan jiwa, hati dan pikiran kita. Insya Allah, seberat apapun masalah yang muncul dihadapan kita, akan terasa mudah dan kita tetap berada dalam kedamaian jiwa.

Serahkanlah semuanya hanya kepada Allah SWT. Memohon ampunan dari kesalahan yang tidak disengaja dan memohon kekuatan dari segala ujian yang ada. Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan umatnya.

Rabu, 02 Januari 2013

Kita dan Dunia

"Alam telah mengaruniai engkau mata setajam mata rajawali, tapi perbudakan telah meredupkan pandanganmu seredup pandangan kelelawar"
-Muhammad Iqbal

Ironis melihat orang-orang diakhir jaman. Mereka terlena oleh gemerlap dunia, menghalalkan yang haram, dan melupakan yang wajib. Tidakkah mereka tahu bahwa kehidupan ini hanya seperti ilusi? Harta-harta yang mereka kejar hanyalah sebuah halusinasi visual yang membutakan mata dan hati. Yang dalam satu kedipan saja bisa hilang dengan kekuasaan Allah. Tidakkah mereka sadar jubah kesombongan yang terbuat dari kain sutera dan dijahit dengan benang emas yang berhiaskan intan permata yang mereka kenakan itu bisa saja menghilang lebur bersamaan dengan hilangnya tahta/kekuasaan yang pada akhirnya akan bergilir menjadi milik orang lain?

Tak ada yang abadi di dunia ini. Yang ada hanya ilusi... halusinasi... delusi... mimpi....

Dunia ini hanya mimpi sesaat yang membutakan hati. Seperti tidur yang merupakan simulasi kematian. Bukankah dalam tidur kita bermimpi? kadang mimpi itu terasa indah dan bahagia, terkadang sedih dan menyesakkan, atau bahkan menyeramkan dan merampas semua yang kita miliki dan banggakan? Bukankah mimpi sama saja dengan hari-hari yang kita lalui? Sedih, senang, sukses, pertengkaran, kekalahan, kemenangan. Semua yang kita lalui setiap hari selalu berbeda, seperti mimpi yang setiap malam selalu tak sama. Hari yang terlewati bagaikan ilusi. Menghilang sekejap mata. Yang terasa hanya peristiwa-peristiwa emosional yang melekat di jiwa. 

Tidakkah kita sadar tugas kita di dunia? Allah menciptakan langit, bumi dan isinya agar semua patuh dan tunduk kepada-Nya. Kita menjadi khalifah di planet bumi ini tidak seenaknya saja merasa menjadi penguasa kemudian sombong dan merusak dunia. Allah tidak sedang membuat prakarya seperti anak SD saat membuat semesta ini. Semesta ini tidak begitu saja dibuat. Tidak begitu saja dibentuk. Bumi tidak begitu saja dibuat bulat, saturnus diberi cincin, atau matahari yang panasnya hanya setitik dari panas neraka. Nabi adam tidak begitu saja diciptakan dari tanah, setan dari api, dan malaikat dari cahaya. Semua ada maksud dan tujuan.

Manusia telah menjadi budak-budak syaitan. Mereka diperbudak nafsu, harta, kekuasaan dan kesombongan. Semakin terlihat jelas janji syaitan saat diusir dari surga. Mereka tidak akan pernah berhenti menggoda dan mengajak anak cucu Nabi Adam untuk menjadi sahabat mereka di neraka hingga akhir jaman. Hingga akhir dunia dimana ketentuan Allah pun mereka ingkari. 

Tidakkah kita sadar perbudakan itu telah menutup mata dan hati kita? 

Waktu ini terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang, tanpa memberi kesempatan untuk mengulang. Kita hidup tidak seperti sedang  try out ujian saat di sekolah. Yang bila gagal masih ada kesempatan belajar di ujian sesungguhnya. Hasil dari ujian adalah kata LULUS dan TIDAK LULUS. Hidup inilah ujian sesungguhnya kawan. Hasil ujiannya akan di umumkan di alam barzah nanti, yaitu SURGA atau NERAKA. Dan masih ada alam kubur dimana kita menanti waktu hari itu tiba dengan perasaan waswas bagi yang tak mampu melaluinya. Seperti saat class meeting dimana kita cemas menunggu saat dibagikan rapot. 

Semesta ini memang diam. Membisu. Tak bicara. Tak berdialog seperti kita. Tapi tidakkah kalian merasakan bahasanya melalui angin, hujan, awan, panas, dan kode-kode alam lainnya yang ditunjukkan semesta kepada kita? Semesta adalah guru kita di dunia. Selalu memberikan pelajaran melalui kode-kode alam yang bisa kita ambil hikmahnya. Karena banjir tidak begitu saja melanda desa dan kota, gempa tidak begitu saja menjadikan tsunami dan melahap segalanya, gunung tak begitu saja meletus dan menyebarkan abu vulkaniknya. Mempelajari semesta tak cukup dengan logika. Tak cukup dengan kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Tapi harus juga dengan hati. Karena hati bisa menjelaskan segala sesuatu yang tidak dapat dicapai logika.

Ini adalah akhir jaman. Dimana semua kembali kepada jaman jahiliyah. Dimana ketentuan Allah semakin dekat. Peringatan Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya semakin jelas. Dan segala yang tertulis di Al-Qur'an semakin nyata kebenarannya.

Aku tak sedang menggurui atau mengajari. Ini juga merupakan instropeksi untuk diriku sendiri. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik.




Selasa, 01 Januari 2013

liefde.. love..




Cinta datang dengan spontan tanpa perlu alasan. Justru dari situlah semua bentuk alasan dibangun.  Cinta melimpah dari “bahasa diam” ke “bahasa diam”. Sebab bahasa tidak cukup dan cakap membicarakannya.
Awal dari cinta adalah membiarkan bahkan membantu orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak mengubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
Cinta tidak sirna hanya karena disebabkan ketidakmampuan pengungkapan; sebab bagian utama cinta adalah hati, bukan rasio.
Cinta boleh jadi seakan-akan irasional, padahal tidak. Umumnya hati tergetar dulu, baru nalar mencari-cari alasan logisnya. Hal itu karena cinta tumbuh dari kodrat manusia sedari lahir. Dan ia telah hadir jauh sebelum kita belajar dan memiliki logika atau bahasa. Cinta lebih alamiah daripada logika, sama halnya air mata lebih alamiah daripada kosakata. Cinta hanya dapat di alami, kalaupun di ucapkan selalu tidak tepat.
Cinta tidak bersifat irasional, tapi ia mengatasi rasionalitas.
Cinta sejati hanya akan muncul dari diri sejati. Kita tidak mungkin dapat memberi cinta sejati, yang murni dari pamrih apapun, apabila kita tidak lebih dulu mengosongkan diri dari sifat-sifat keakuan (egoisme). Sebab, keakuan menyumbat dan mengotori aliran kasih-sayang dari-Nya. Ego harus dibakar lebih dulu agar kita sanggup melakukan kebaikan tanpa batas. Dengan demikian, barulah kita dapat menyatu ke dalam cinta sebagaimana menyatunya ikan  ke dalam air.
Cinta dalam pemahaman yang sejati, bukan sekedar perasaan atau emosi. Melainkan cinta sebagai pengalaman kesadaran akan keutuhan, yang berarti mengetahui bahwa anda terhubung dengan segalanya di alam semesta.

buku: Titik Ba (Ahmad Thoha Faz)