"Alam telah mengaruniai engkau mata setajam mata rajawali, tapi perbudakan telah meredupkan pandanganmu seredup pandangan kelelawar"
-Muhammad Iqbal
Ironis melihat orang-orang diakhir jaman. Mereka terlena oleh gemerlap dunia, menghalalkan yang haram, dan melupakan yang wajib. Tidakkah mereka tahu bahwa kehidupan ini hanya seperti ilusi? Harta-harta yang mereka kejar hanyalah sebuah halusinasi visual yang membutakan mata dan hati. Yang dalam satu kedipan saja bisa hilang dengan kekuasaan Allah. Tidakkah mereka sadar jubah kesombongan yang terbuat dari kain sutera dan dijahit dengan benang emas yang berhiaskan intan permata yang mereka kenakan itu bisa saja menghilang lebur bersamaan dengan hilangnya tahta/kekuasaan yang pada akhirnya akan bergilir menjadi milik orang lain?
Tak ada yang abadi di dunia ini. Yang ada hanya ilusi... halusinasi... delusi... mimpi....
Dunia ini hanya mimpi sesaat yang membutakan hati. Seperti tidur yang merupakan simulasi kematian. Bukankah dalam tidur kita bermimpi? kadang mimpi itu terasa indah dan bahagia, terkadang sedih dan menyesakkan, atau bahkan menyeramkan dan merampas semua yang kita miliki dan banggakan? Bukankah mimpi sama saja dengan hari-hari yang kita lalui? Sedih, senang, sukses, pertengkaran, kekalahan, kemenangan. Semua yang kita lalui setiap hari selalu berbeda, seperti mimpi yang setiap malam selalu tak sama. Hari yang terlewati bagaikan ilusi. Menghilang sekejap mata. Yang terasa hanya peristiwa-peristiwa emosional yang melekat di jiwa.
Tidakkah kita sadar tugas kita di dunia? Allah menciptakan langit, bumi dan isinya agar semua patuh dan tunduk kepada-Nya. Kita menjadi khalifah di planet bumi ini tidak seenaknya saja merasa menjadi penguasa kemudian sombong dan merusak dunia. Allah tidak sedang membuat prakarya seperti anak SD saat membuat semesta ini. Semesta ini tidak begitu saja dibuat. Tidak begitu saja dibentuk. Bumi tidak begitu saja dibuat bulat, saturnus diberi cincin, atau matahari yang panasnya hanya setitik dari panas neraka. Nabi adam tidak begitu saja diciptakan dari tanah, setan dari api, dan malaikat dari cahaya. Semua ada maksud dan tujuan.
Manusia telah menjadi budak-budak syaitan. Mereka diperbudak nafsu, harta, kekuasaan dan kesombongan. Semakin terlihat jelas janji syaitan saat diusir dari surga. Mereka tidak akan pernah berhenti menggoda dan mengajak anak cucu Nabi Adam untuk menjadi sahabat mereka di neraka hingga akhir jaman. Hingga akhir dunia dimana ketentuan Allah pun mereka ingkari.
Tidakkah kita sadar perbudakan itu telah menutup mata dan hati kita?
Waktu ini terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang, tanpa memberi kesempatan untuk mengulang. Kita hidup tidak seperti sedang try out ujian saat di sekolah. Yang bila gagal masih ada kesempatan belajar di ujian sesungguhnya. Hasil dari ujian adalah kata LULUS dan TIDAK LULUS. Hidup inilah ujian sesungguhnya kawan. Hasil ujiannya akan di umumkan di alam barzah nanti, yaitu SURGA atau NERAKA. Dan masih ada alam kubur dimana kita menanti waktu hari itu tiba dengan perasaan waswas bagi yang tak mampu melaluinya. Seperti saat class meeting dimana kita cemas menunggu saat dibagikan rapot.
Semesta ini memang diam. Membisu. Tak bicara. Tak berdialog seperti kita. Tapi tidakkah kalian merasakan bahasanya melalui angin, hujan, awan, panas, dan kode-kode alam lainnya yang ditunjukkan semesta kepada kita? Semesta adalah guru kita di dunia. Selalu memberikan pelajaran melalui kode-kode alam yang bisa kita ambil hikmahnya. Karena banjir tidak begitu saja melanda desa dan kota, gempa tidak begitu saja menjadikan tsunami dan melahap segalanya, gunung tak begitu saja meletus dan menyebarkan abu vulkaniknya. Mempelajari semesta tak cukup dengan logika. Tak cukup dengan kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Tapi harus juga dengan hati. Karena hati bisa menjelaskan segala sesuatu yang tidak dapat dicapai logika.
Ini adalah akhir jaman. Dimana semua kembali kepada jaman jahiliyah. Dimana ketentuan Allah semakin dekat. Peringatan Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya semakin jelas. Dan segala yang tertulis di Al-Qur'an semakin nyata kebenarannya.
Aku tak sedang menggurui atau mengajari. Ini juga merupakan instropeksi untuk diriku sendiri. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar