Selasa, 01 Januari 2013

liefde.. love..




Cinta datang dengan spontan tanpa perlu alasan. Justru dari situlah semua bentuk alasan dibangun.  Cinta melimpah dari “bahasa diam” ke “bahasa diam”. Sebab bahasa tidak cukup dan cakap membicarakannya.
Awal dari cinta adalah membiarkan bahkan membantu orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak mengubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
Cinta tidak sirna hanya karena disebabkan ketidakmampuan pengungkapan; sebab bagian utama cinta adalah hati, bukan rasio.
Cinta boleh jadi seakan-akan irasional, padahal tidak. Umumnya hati tergetar dulu, baru nalar mencari-cari alasan logisnya. Hal itu karena cinta tumbuh dari kodrat manusia sedari lahir. Dan ia telah hadir jauh sebelum kita belajar dan memiliki logika atau bahasa. Cinta lebih alamiah daripada logika, sama halnya air mata lebih alamiah daripada kosakata. Cinta hanya dapat di alami, kalaupun di ucapkan selalu tidak tepat.
Cinta tidak bersifat irasional, tapi ia mengatasi rasionalitas.
Cinta sejati hanya akan muncul dari diri sejati. Kita tidak mungkin dapat memberi cinta sejati, yang murni dari pamrih apapun, apabila kita tidak lebih dulu mengosongkan diri dari sifat-sifat keakuan (egoisme). Sebab, keakuan menyumbat dan mengotori aliran kasih-sayang dari-Nya. Ego harus dibakar lebih dulu agar kita sanggup melakukan kebaikan tanpa batas. Dengan demikian, barulah kita dapat menyatu ke dalam cinta sebagaimana menyatunya ikan  ke dalam air.
Cinta dalam pemahaman yang sejati, bukan sekedar perasaan atau emosi. Melainkan cinta sebagai pengalaman kesadaran akan keutuhan, yang berarti mengetahui bahwa anda terhubung dengan segalanya di alam semesta.

buku: Titik Ba (Ahmad Thoha Faz)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar