Cinta datang dengan spontan tanpa perlu alasan. Justru dari situlah semua bentuk alasan dibangun. Cinta melimpah dari “bahasa diam” ke “bahasa diam”. Sebab bahasa tidak cukup dan cakap membicarakannya.
Awal dari
cinta adalah membiarkan bahkan membantu orang yang kita cintai menjadi dirinya
sendiri, dan tidak mengubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak,
kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
Cinta tidak
sirna hanya karena disebabkan ketidakmampuan pengungkapan; sebab bagian utama
cinta adalah hati, bukan rasio.
Cinta boleh
jadi seakan-akan irasional, padahal tidak. Umumnya hati tergetar dulu, baru
nalar mencari-cari alasan logisnya. Hal itu karena cinta tumbuh dari kodrat
manusia sedari lahir. Dan ia telah hadir jauh sebelum kita belajar dan memiliki
logika atau bahasa. Cinta lebih alamiah daripada logika, sama halnya air mata
lebih alamiah daripada kosakata. Cinta hanya dapat di alami, kalaupun di
ucapkan selalu tidak tepat.
Cinta tidak
bersifat irasional, tapi ia mengatasi rasionalitas.
Cinta sejati
hanya akan muncul dari diri sejati. Kita tidak mungkin dapat memberi cinta
sejati, yang murni dari pamrih apapun, apabila kita tidak lebih dulu
mengosongkan diri dari sifat-sifat keakuan (egoisme). Sebab, keakuan menyumbat
dan mengotori aliran kasih-sayang dari-Nya. Ego harus dibakar lebih dulu agar
kita sanggup melakukan kebaikan tanpa batas. Dengan demikian, barulah kita
dapat menyatu ke dalam cinta sebagaimana menyatunya ikan ke dalam air.
Cinta dalam
pemahaman yang sejati, bukan sekedar perasaan atau emosi. Melainkan cinta
sebagai pengalaman kesadaran akan keutuhan, yang berarti mengetahui bahwa anda
terhubung dengan segalanya di alam semesta.
buku: Titik
Ba (Ahmad Thoha Faz)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar