Masalah atau ujian hidup bisa datang kapan pun dan dimana pun tanpa kita duga, siap tidak siap, mau tidak mau. Semua muncul karena refleksi dari perkataan atau perilaku kita (baik atau tidak baik) yang kadang muncul dari orang yang tidak menyukai kita, atau akibat dari diri kita sendiri.
Saat masalah datang menimpa, kita tidak bisa menganggap diri kita paling benar, paling hebat dan tidak "ambil andil" dalam masalah tersebut. Karena sadar atau tidak sadar, kadang kita juga ikut "memoles" masalah muncul kepermukaan. Menilai diri sendiri paling benar adalah cara berpikir yang sempit... Sombong. Dan menilai orang yang membenci kita sebagai orang yang jahat juga cara berpikir yang sempit... Tidak bijak.
Mereka yang dibenci dan mereka yang membenci seperti dua kutub magnet yang saling tarik menarik dari dua magnet yang berbeda. Saling memikirkan, saling terpancing emosi, saling mencari tahu walaupun tidak ingin tahu, dan selalu memantau setiap gerak gerik orang tersebut. Energi terbuang percuma karena emosi sesaat sebelum kita dapat menenangkan diri dan berpikir jernih.
Masalah -suka tidak suka- adalah sebuah pelajaran hidup dan memiliki banyak hikmah yang dapat "dirasakan" dan "diambil" diakhir penyelesaian masalah tersebut. Tak mungkin orang hidup tanpa masalah. Dan setiap masalah ada taraf tingkatannya. Ada masalah kecil yang tak terasa sehingga kita tak ambil pusing, sampai masalah besar yang membuat kita sulit tidur dan emosi menjadi bergejolak.
Masalah adalah pengujian terhadap diri kita sendiri. Dari masalah yang muncul, kita akan dinilai, apakah kita dewasa dalam menyikapi masalah? Jernihkah kita dalam berpikir? Bijak kah kita dalam menilai orang lain? Mampukah kita melihat segala permasalah dalam perspektif yang luas dengan berbagai sudut pandang yang berbeda?
Hal yang paling menarik saat "terjerambab" dalam sebuah masalah adalah saat kita coba "menyelami" jiwa si "pembuat masalah." Mengapa dia sampai tidak menyukai diri kita? Mengapa dia berkoar-koar mengenai diri kita? Adakah yang salah di matanya mengenai kata-kata, sifat dan sikap kita, baik yang tertuju padanya maupun tidak? Karena apabila seseorang sudah diliputi rasa tidak suka/benci terhadap orang lain, maka apapun yang dilakukan oleh orang tersebut akan selalu nampak salah di matanya. Ataukah memang ada yang salah dengan "jiwa" dan cara berpikirnya? Dengan mencoba menempatkan diri menjadi orang tersebut, kita menjadi bisa lebih sedikit memahami kondisi kejiwaannya. Kita pun akan dibuat penasaran sehingga kadang membuat analisis yang tak terduga.
Jadi, coba posisikan diri kita adalah dirinya. Luaskan cara berpikir dan sudut pandang kita mengenai keseluruhan dirinya. Bagaimana jika seandainya diri kita adalah dia?
Tak memungkiri kita pasti merasa paling benar dan tidak merasa bersalah. Ini adalah reaksi awal saat ada ketidak sesuaian atau masalah yang datang kepada diri kita. Emosi menjadi tidak stabil sebelum kita dapat berpikir dengan jernih.
Melarikan diri dari masalah adalah sikap pengecut. Mendiamkannya bukanlah jalan
yang terbaik. Membalas dengan kejahatan bukanlah tindakan yang bijak.
Seberat apapun cobaan yang tengah dihadapi, semoga dapat membuat diri kita lebih dewasa dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Jangan mengumbar kekesalan dengan marah-marah, mencaci maki dan mengeluarkan kata-kata tidak sopan di sosial media. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat menimbulkan masalah baru. Kita pun akan mendapat kesan negatif dari setiap orang yang membaca status kita di akun sosial.
Saat masalah datang, cobalah untuk tetap berpikir jernih agar pikiran positif tetap bersemayam di otak kita. Cari tahu sumber masalah, pahami, dan selesaikan dengan baik, tanpa emosi. Berusahalah untuk tetap tenang dan hadapi dengan sikap dewasa dan bijak. Untuk inilah masalah ada di dunia ini. Untuk mengajarkan diri kita bahwa hidup tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Hidup memang tidak akan selalu berdamai dengan diri kita, tapi berusahalah untuk terus mendamaikan jiwa, hati dan pikiran kita. Insya Allah, seberat apapun masalah yang muncul dihadapan kita, akan terasa mudah dan kita tetap berada dalam kedamaian jiwa.
Serahkanlah semuanya hanya kepada Allah SWT. Memohon ampunan dari kesalahan yang tidak disengaja dan memohon kekuatan dari segala ujian yang ada. Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan umatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar