Sahabatku, jangan bersedih karena persoalan hidup yang ada
dihadapanmu, karena perbedaan yang begitu besar tengah menghampirimu.
Mengalah demi ego orang terpenting dalam hidup kita adalah hal yang
mulia. Bersabarlah....
Bukankah kita sudah tahu dan mengerti konsekuensinya saat kita memutuskan untuk menerimanya menjadi pendamping hidup kita?
Bukankah kalian sudah saling mengerti banyaknya perbedaan diantara kalian?
Sahabatku, perbedaan diantara kalian mungkin akan sulit disatukan,
karena perbedaan ada bukan untuk disatukan, tapi dipahami dan dimengerti
oleh masing-masing jiwa, agar perbedaan itu tidak menjadi kentara dan
dapat berjalan beriringan, bahkan saling melengkapi satu sama lain.
Antara langit dan bumi tak pernah ada penopang yang menghubungkannya.
Tak terlihat tiang menjulang tinggi untuk mempertemukan mereka. Tapi
diantaranya ada udara dan lapisan atmosfer. Keduanya tidak dapat
dilihat, tapi dapat dirasakan. Keduanya lah yang menghubungkan langit
dan bumi. Keduanya itu bagaikan
chemistry atau kuasa Allah. Seperti halnya sifat kalian, akan sulit menyatu, tapi dapat saling melengkapi.
Seperti halnya dua insan yang memiliki perbedaan sifat bertemu.
Mereka saling jatuh cinta. Sang laki-laki terlihat dewasa, pemikir,
segala hal terencana dan realistis. Si wanita sangat ceria, energik,
imajinatif bahkan terkadang ceroboh dan sang pemimpi. Sifat mereka tak
bisa disatukan sahabatku. Tapi mereka bisa saling melengkapi satu sama
lain.
Mungkin lebih jelas perbedaan itu saat aku tuliskan:
Langit vs bumi
Dewasa vs Anak-anak
Realistis vs Imajinatif
Sang Pemikir vs Sang Imajinatif
Otak Kiri vs Otak Kanan
Begitu kentara perbedaan itu. Tapi tahukah sahabatku, adakalanya
kehidupan keras orang dewasa dan monoton butuh polesan warna-warni dari
wanita yang selalu ceria dan enerjik supaya hati mereka melembut. Atau
wanita yang terlalu ceria dan polos harus dibimbing oleh laki-laki yang
berpikir dewasa supaya lebih terarah hidupnya.
Bisa saja sang pemikir lelah dengan realitas yang begitu penat dan
ingin bersandar pada si imajinatif yang santai dan damai. Atau sang
imajinatif yang lelah berpetualang di dunia mimpi dan butuh seorang yang
realistis untuk membawanya kembali ke dunia nyata.
Layaknya otak kiri dan otak kanan, meskipun memiliki perbedaan fungsi, tapi mereka tetap saling melengkapi.
Semua membutuhkan pemahaman diantara keduanya. Tidak mungkin kita
bisa merubah diri seseorang tanpa persetujuan hatinya. Keduanya harus
saling mampu menekan ego masing-masing. Seandainya hanya salah satu yang
mampu, bersabarlah.. dan teruslah berusaha memberikan pemahaman dengan
kata-kata dan contoh yang nyata dan baik, tentunya dengan doa yang tulus
untuk dirinya juga agar mampu dilembutkan hatinya oleh Sang Maha Kuasa.
Sahabatku, perbedaan itu tidak hanya akan kentara dikedua orang itu, tapi begitu juga diantara orang-orang terdekatnya.
Teman-teman si realistis pasti akan berpikir si imajinatif tak akan
mungkin bisa menyeimbangkan kecerdasan si realistis. Bahkan teman si
imajinatif pun akan berpikir bagaimana mungkin si imajinatif mendapatkan
si realistis yang hidupnya kadang monoton dan harus
perfect.
Tapi, bukankah peduli apa dengan pemikiran-pemikiran mereka, kalau
kalian berdua mampu saling melengkapi dan memahami? Kalau kalian mampu
saling berjalan beriringan dan mampu salling mengimbangi kelebihan dan
kekurangan kalian.
Mungkin ini yang harus dipahami saat kita mencintai/menyayangi orang
yang sifatnya berbeda jauh dengan kita. Memahami bahwa kenyataan salah
satu harus ada yang mengalah pasti akan terjadi. Tapi alangkah baiknya
tidak hanya satu pihak yang selalu mengalah. Keduanya harus tahu dan
mengerti posisi masing-masing. Tapi diantara kedua insan yang memiliki
sifat yang berbeda, pasti tetap memiliki persamaan. Entah hobi kalian,
cara pandang kalian, atau yang lainnya.
Sahabatku, katamu cinta membuat kita buta, dan pernikahan membuat
kita membuka mata. Saat kita jatuh cinta memang semua terasa indah.
Perbedaan seakan tidak berarti. Yang ada dihati kita semuanya hanya
tentang dia dan dia. Karena begitu banyak hormon yang bekerja saat kita
jatuh cinta. Aku bilang saat jatuh cinta inilah saat imajinatif kita.
Namun saat menikah, barulah mata kita terbuka. Begitu banyak perbedaan
di depan mata, dari hal terkecil sampai hal terbesar. Jika kita hanya
mengandalkan ego, semua akan terasa jauh dan berat. Maka kita tidak
hanya harus membuka pancaindera kita, tapi juga mata hati kita. Dan
inilah saat realitas kita. Mungkin inilah saatnya kamu belajar yang
namanya kearifan dan kebijaksanaan. Memahami segala sesuatunya tidak
dengan ego, tapi dengan berpikir jernih dan melihat segala sesuatunya
dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Cobaan dan tantangan pasti
ada, tapi itulah hidup. Hidup itu tidak ada yang pasti. Hidup selalu
berada dalam ketidak pastian. Ketidak pastian apakah besok akan tetap
berjalan lancar seperti hari ini? Atau ketidak pastian apakah kita masih
bisa menikmati dunia yang fana ini?
Sahabatku, tetaplah berdoa dan mengingat Allah disetiap hembus napas
kita. Karena Allah lah yang mampu membolak balikan hati manusia dan yang
mampu melembutkan hati yang keras. Tetaplah menjadi orang yang penuh
kesabaran seperti biasanya. Jangan pernah berkata lelah. Aku tahu
perjalanan hidupmu amatlah berliku dan butuh kesabaran ekstra, tapi
itulah adanya dirimu. Perjalanan hidupmulah yang membuatmu menjadi
wanita tersabar yang pernah aku kenal, terkuat yang pernah aku tahu, dan
selalu ceria meski badai menerpamu.
Ingatkah kita pernah bilang kita ini sama? Sifat kita tidak jauh
berbeda (meski tetap ada perbedaan)? Jika ada yang bertanya seperti apa
sifatmu kepadaku, maka aku akan jawab, lihatlah aku. Begitu juga
sebaliknya. Maka saat kamu merasa tidak nyaman, tertekan, lelah dan
sedih, aku mengerti yang kamu rasakan. Mungkin sabarku tidak sesabar
dirimu, semoga kita bisa saling belajar satu sama lain mengenai
kekurangan kita :)
"B
ila dunia telah disempitkan orang lain, maka bangunlah alam semesta di dalam dada"
Sahabatku, sesungguhnya aku tak pantas mengatakan semua ini
kepadamu. Aku belum pernah menikah, mana mungkin aku mengerti dan tahu
suka duka pernikahan. Aku pun orang yang sulit jatuh cinta, jadi aku tak
mengerti saat kamu katakan cinta membuat kita buta. Mungkin kata-kata
ini juga sindiran untuk diriku. Setidaknya, inilah pikiran jernihku saat
ini untukmu. Semoga aku bisa menenangkan hatimu, bukan malah
memperburuk pikiranmu :)
Tetaplah bercerita dan berkeluh kesah kepadaku, sahabatku. Entah
berkali-kali ataupun ribuan kali kau ulang keluh kesahmu, akan tetap aku
dengarkan. Tetaplah bercerita kepadaku, karena artinya kau tetap
percaya padaku, sahabatku. Jangan bersedih, karena aku selalu ada
untukmu dan akan dengan setia mendengar keluh kesahmu.
love u my bestfriend,
- indah puji lestari-
Masih ingatkah kata-kata kita ini?
"Yang ditakutkan wanita setelah menikah adalah bukan hidup miskin, tapi dipoligami/diselingkuhi, dan tak bisa saling memahami"