Minggu, 30 Desember 2012

Penghujung 2012


Alhamdulillah, terima kasih ya Allah

Mungkin kalimat itu yang ingin di ucapkan pertama kali kepada Allah SWT atas satu tahun yang begitu indah di tahun masehi ini. Banyak resolusi berjalan lancar, dan banyak hal indah terjadi. Namun begitu, banyak hal duka juga terjadi. Tapi semuanya lengkap menjadi satu. Menjadi sebuah paket perjalanan satu tahun yang luar biasa, indah, dan penuh pembelajaran hidup.

Dimulai dari bulan Januari angkat sumpah dokter, kemudian bekerja di RSB milik saudara, SIP keluar, praktek di klinik rumah, sampai perjalanan yang begitu indah dan luar biasa ke tanah suci di bulan Mei. Bahkan mobil yang telah lama di tunggu akhirnya turun juga menggantikan Rush yang diambil alih oleh papa. Meski STNK tetap nama mama.

Banyak juga kegiatan dan pertemuan yang diluar dugaan. Kesemuanya itu memberikan keyakinan dan pembelajaran hidup. Resolusi PTT di tahun 2012 yang aku coret dari awal tahun pun ternyata memberikan banyak hikmah. Sejak kecil, aku adalah orang yang selalu mencoba mengambil hikmah dari setiap kejadian yang terjadi pada diri ini. Sekecil dan sangat tidak berarti  kejadian yang dilalui pun tetap ada hikmahnya.

Mereka bilang, ini tahunku.

Satu pembelajaran yang masih harus terus berjalan adalah belajar keikhlasan dan kesabaran. Dua hal yang harus benar-benar dipahami dan dimiliki oleh diri ini. Semoga semakin hari bisa semakin menjadi lebih baik.
Saatnya membuat resolusi di tahun 2013. Tak perlu berambisi, tak perlu ngotot harus terlaksana. Cukup di jalani dan coba diraih dengan sebaik mungkin. Mimpi-mimpi yang tertunda dan belum terlaksana harus coba di capai satu per satu.

Terimakasih ya Allah atas tahun 2012 ini. Semua tahun yang aku lalui tetap merupakan tahun-tahun yang indah dan penuh hikmah. Tak ada tahun yang tidak Engkau ridhoi, tak ada hari yang tidak Engkau rahmati, dan tak ada menit yang berlalu begitu saja tanpa kasih sayang-Mu.

Semoga aku bisa terus menjadi orang yang selalu bersyukur kepada-Mu. Semoga aku bisa menjadi orang yang lebih baik dari waktu ke waktu. 

Sabtu, 29 Desember 2012

Bilal Fairuz Karami in Wonderfull Journey

Subhannallah, 

Memang perjalanan menuju rumah-Mu adalah perjalanan yang luar biasa, dan dipertemukan pula dengan orang-orang yang luar biasa. 

Di bandara Soekarna-Hatta, mata ini tertuju pada sosok anak kecil sekitar umur 12-13 tahun yang tengah berdiri memakai seragam batik yang sama denganku. Lucu dan seru juga ya kalau pergi umroh mengajak anak saat masih kecil. Pikir ku saat itu. Saat tengah di absen oleh ustadz Zamzami, ustadz pembimbing kami selama perjalanan umroh ini, aku tahu bahwa namanya Bilal, Bilal Fairuz Karami. Nama yang bagus karena mengingatkan ku pada sosok Bilal, orang yang pertama mengumandangkan adzan dan memiliki suara merdu pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Ada kesempatan aku berjalan tidak jauh darinya. Lalu aku coba menyapanya yang tengah berjalan dengan ayahnya. "Bilal ya namanya? Bagus" Tanyaku saat itu. Mereka berdua melihat ke arahku. Dengan tersenyum ramah ayahnya bertanya padaku, "Tahu nama Bilal dari mana?" tanyanya saat itu. Heran melihatku tahu nama anaknya. Dengan polos aku jawab, "Tadi pas di absen Pak, soalnya Bilal satu-satunya anak kecil di rombongan ini."

Si ayah tersenyum lagi, "Soalnya, ternyata banyak yang kenal Bilal. Bilal ini Qori," Jelasnya ramah. Wah, aku semakin kagum mendengarnya. Jadi ingin mendengar suara merdunya. Tapi pembicaraan ini tidak berlangsung lama karena aku di panggil ibuku. 

Iseng aku coba cari di internet nama Bilal Fairuz Karami. Ternyata memang ada! 
Pada usianya yang masih belia dia sudah hapal 30 juz Al-Qur'an. Dia juga termasuk 5 besar dalam MTQ Internasional tahun 2011.
Subhannallah, luar biasa sekali anak itu. Jadi ingin punya anak yang hafidz Al-Qur'an suatu hari nanti. Dan Alhamdulillah, akhirnya dapat kesempatan mendengarkan suara merdunya saat mengaji surah Yassin. Benar-benar merdu dan membuat hati tenang :)





Minggu, 23 Desember 2012

Jangan Bersedih, Sahabatku

Sahabatku, jangan bersedih karena persoalan hidup yang ada dihadapanmu, karena perbedaan yang begitu besar tengah menghampirimu. Mengalah demi ego orang terpenting dalam hidup kita adalah hal yang mulia. Bersabarlah....
Bukankah kita sudah tahu dan mengerti konsekuensinya saat kita memutuskan untuk menerimanya menjadi pendamping hidup kita?
Bukankah kalian sudah saling mengerti banyaknya perbedaan diantara kalian?

Sahabatku, perbedaan diantara kalian mungkin akan sulit disatukan, karena perbedaan ada bukan untuk disatukan, tapi dipahami dan dimengerti oleh masing-masing jiwa, agar perbedaan itu tidak menjadi kentara dan dapat berjalan beriringan, bahkan saling melengkapi satu sama lain.
Antara langit dan bumi tak pernah ada penopang yang menghubungkannya. Tak terlihat tiang menjulang tinggi untuk mempertemukan mereka. Tapi diantaranya ada udara dan lapisan atmosfer. Keduanya tidak dapat dilihat, tapi dapat dirasakan. Keduanya lah yang menghubungkan langit dan bumi. Keduanya itu bagaikan chemistry atau kuasa Allah. Seperti halnya sifat kalian, akan sulit menyatu, tapi dapat saling melengkapi.

Seperti halnya dua insan yang memiliki perbedaan sifat bertemu. Mereka saling jatuh cinta. Sang laki-laki terlihat dewasa, pemikir, segala hal terencana dan realistis. Si wanita sangat ceria, energik, imajinatif bahkan terkadang ceroboh dan sang pemimpi. Sifat mereka tak bisa disatukan sahabatku. Tapi mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.
Mungkin lebih jelas perbedaan itu saat aku tuliskan:
Langit vs bumi
Dewasa vs Anak-anak
Realistis vs Imajinatif
Sang Pemikir vs Sang Imajinatif
Otak Kiri vs Otak Kanan

Begitu kentara perbedaan itu. Tapi tahukah sahabatku, adakalanya kehidupan keras orang dewasa dan monoton butuh polesan warna-warni dari wanita yang selalu ceria dan enerjik supaya hati mereka melembut. Atau wanita yang terlalu ceria dan polos harus dibimbing oleh laki-laki yang berpikir dewasa supaya lebih terarah hidupnya.
Bisa saja sang pemikir lelah dengan realitas yang begitu penat dan ingin bersandar pada si imajinatif yang santai dan damai. Atau sang imajinatif yang lelah berpetualang di dunia mimpi dan butuh seorang yang realistis untuk membawanya kembali ke dunia nyata.
Layaknya otak kiri dan otak kanan, meskipun memiliki perbedaan fungsi, tapi mereka tetap saling melengkapi.

Semua membutuhkan pemahaman diantara keduanya. Tidak mungkin kita bisa merubah diri seseorang tanpa persetujuan hatinya. Keduanya harus saling mampu menekan ego masing-masing. Seandainya hanya salah satu yang mampu, bersabarlah.. dan teruslah berusaha memberikan pemahaman dengan kata-kata dan contoh yang nyata dan baik, tentunya dengan doa yang tulus untuk dirinya juga agar mampu dilembutkan hatinya oleh Sang Maha Kuasa.

Sahabatku, perbedaan itu tidak hanya akan kentara dikedua orang itu, tapi begitu juga diantara orang-orang terdekatnya.
Teman-teman si realistis pasti akan berpikir si imajinatif tak akan mungkin bisa menyeimbangkan kecerdasan si realistis. Bahkan teman si imajinatif pun akan berpikir bagaimana mungkin si imajinatif mendapatkan si realistis yang hidupnya kadang monoton dan harus perfect.

Tapi, bukankah peduli apa dengan pemikiran-pemikiran mereka, kalau kalian berdua mampu saling melengkapi dan memahami? Kalau kalian mampu saling berjalan beriringan dan mampu salling mengimbangi kelebihan dan kekurangan kalian.

Mungkin ini yang harus dipahami saat kita mencintai/menyayangi orang yang sifatnya berbeda jauh dengan kita. Memahami bahwa kenyataan salah satu harus ada yang mengalah pasti akan terjadi. Tapi alangkah baiknya tidak hanya satu pihak yang selalu mengalah. Keduanya harus tahu dan mengerti posisi masing-masing. Tapi diantara kedua insan yang memiliki sifat yang berbeda, pasti tetap memiliki persamaan. Entah hobi kalian, cara pandang kalian, atau yang lainnya.

Sahabatku, katamu cinta membuat kita buta, dan pernikahan membuat kita membuka mata. Saat kita jatuh cinta memang semua terasa indah. Perbedaan seakan tidak berarti. Yang ada dihati kita semuanya hanya tentang dia dan dia. Karena begitu banyak hormon yang bekerja saat kita jatuh cinta. Aku bilang saat jatuh cinta inilah saat imajinatif kita. Namun saat menikah, barulah mata kita terbuka. Begitu banyak perbedaan di depan mata, dari hal terkecil sampai hal terbesar. Jika kita hanya mengandalkan ego, semua akan terasa jauh dan berat. Maka kita tidak hanya harus membuka pancaindera kita, tapi juga mata hati kita. Dan inilah saat realitas kita. Mungkin inilah saatnya kamu belajar yang namanya kearifan dan kebijaksanaan. Memahami segala sesuatunya tidak dengan ego, tapi dengan berpikir jernih dan melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Cobaan dan tantangan pasti ada, tapi itulah hidup. Hidup itu tidak ada yang pasti. Hidup selalu berada dalam ketidak pastian. Ketidak pastian apakah besok akan tetap berjalan lancar seperti hari ini? Atau ketidak pastian apakah kita masih bisa menikmati dunia yang fana ini?

Sahabatku, tetaplah berdoa dan mengingat Allah disetiap hembus napas kita. Karena Allah lah yang mampu membolak balikan hati manusia dan yang mampu melembutkan hati yang keras. Tetaplah menjadi orang yang penuh kesabaran seperti biasanya. Jangan pernah berkata lelah. Aku tahu perjalanan hidupmu amatlah berliku dan butuh kesabaran ekstra, tapi itulah adanya dirimu. Perjalanan hidupmulah yang membuatmu menjadi wanita tersabar yang pernah aku kenal, terkuat yang pernah aku tahu, dan selalu ceria meski badai menerpamu.

Ingatkah kita pernah bilang kita ini sama? Sifat kita tidak jauh berbeda (meski tetap ada perbedaan)? Jika ada yang bertanya seperti apa sifatmu kepadaku, maka aku akan jawab, lihatlah aku. Begitu juga sebaliknya. Maka saat kamu merasa tidak nyaman, tertekan, lelah dan sedih, aku mengerti yang kamu rasakan. Mungkin sabarku tidak sesabar dirimu, semoga kita bisa saling belajar satu sama lain mengenai kekurangan kita :)

"Bila dunia telah disempitkan orang lain, maka bangunlah alam semesta di dalam dada"

Sahabatku, sesungguhnya aku tak pantas  mengatakan semua ini kepadamu. Aku belum pernah menikah, mana mungkin aku mengerti dan tahu suka duka pernikahan. Aku pun orang yang sulit jatuh cinta, jadi aku tak mengerti saat kamu katakan cinta membuat kita buta. Mungkin kata-kata ini juga sindiran untuk diriku. Setidaknya, inilah pikiran jernihku saat ini untukmu. Semoga aku bisa menenangkan hatimu, bukan malah memperburuk pikiranmu :)

Tetaplah bercerita dan berkeluh kesah kepadaku, sahabatku. Entah berkali-kali ataupun ribuan kali kau ulang keluh kesahmu, akan tetap aku dengarkan. Tetaplah bercerita kepadaku, karena artinya kau tetap percaya padaku, sahabatku. Jangan bersedih, karena aku selalu ada untukmu dan akan dengan setia mendengar keluh kesahmu.

love u my bestfriend,
- indah puji lestari-

Masih ingatkah kata-kata kita ini?
"Yang ditakutkan wanita setelah menikah adalah bukan hidup miskin, tapi dipoligami/diselingkuhi, dan tak bisa saling memahami"



Selasa, 27 November 2012

Kamu adalah Air, dan Tetaplah Menjadi Air

"Kamu adalah air, dan tetaplah menjadi air. Yang mampu membawa arus ketenangan dalam kehidupan, dan menjadi sumber kebahagiaan bagi setiap orang disekitarmu. Seperti mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi semua orang. Jangan pernah berpikir untuk menjadi api, tanah, udara maupun logam. Air yang jernih dan mengalir tenang. Itulah adanya kamu." 


Alam memiliki banyak hal yang bisa dikaitkan dengan jiwa manusia. Alam semesta adalah guru yang jujur, bijak, dengan segala pembelajaran-pembelajaran yang diberikannya melalui banyak hal. Alam tak pernah berbohong. Ia menampakkan apa yang seharusnya tampak, dan menyembunyikan yang semestinya tersembunyi.

Alam juga memiliki jiwa. Dan jiwa inilah yang menjadi unsur-unsur dasar terbentuknya alam. Tanah, air, api, udara dan logam (mineral).

Tak ada yang salah dengan unsur-unsur yang lain. Tapi nasehat dari seseorang yang sudah seperti kakak sendiri ini membuatku berpikir, "Ya, tetaplah menjadi air," yang artinya tetaplah jadi diri sendiri, apa adanya seorang Indah Puji Lestari.

Rabu, 21 November 2012

jiwaku... Bersabarlah...


aku butuh alam bebas!
untuk menggapai segala mimpiku yang tertunda sekian tahun
memenuhi segala hasrat dan ambisiku
dan melampiaskan segala egoku ke udara

tapi yang kumiliki hanya ruang!
dimana aku harus membunuh segala mimpiku
melupakan segala hasrat dan ambisiku
menekan egoku

gerak ku terbatas
imajinasiku menjadi abstrak
aku seperti terkurung dalam ruang sempit

jiwaku adalah jiwa bebas
yang tak ingin terikat oleh apapun

aku ingin membentangkan sayapku ke udara
menapaki gunung tinggi yang terjal
mengarungi samudera
atau membuat lubang hingga kedasar bumi

tapi yang kulihat sekarang hanya realita!
dimana tanganku terantai oleh kata bernama "pekerjaan"
oleh pandangan-pandangan hidup yang dinamakan profesi

mereka bilang aku tak punya sayap
mereka bilang tak ada waktu untuk menaklukan himalaya
mereka bilang samudera sudah di arungi oleh nenek moyang kita
dan tak ada alat untuk melubangi dasar bumi

aku diminta menapakkan kaki di tanah

jiwaku meronta
mulutku terbungkam
gerakku terbatas

otakku terus berputar
mimpiku terus bermunculan
imajinasiku bermain-main liar di kepalaku

apakah hidup hanya sekedar mencari materi?
apakah hidup hanya sekedar demi mendapat pengakuan dari orang lain?

aku hanya ingin jadi orang benar

mengapa aku selalu dihadapkan pada realita yang tak sejalan dengan jiwaku?

rasa terenyuh melihat penderitaan
rasa bersalah saat tak mampu membantu
atau rasa tak berguna saat hanya mampu terdiam

aku tak ingin menjadi durhaka!
tapi aku juga ingin berjalan beriringan dengan jiwaku

saat ini aku hanya mampu terdiam
mencoba mencari celah ke permukaan
seperti setitik cahaya diangkasa
yang kadang tertutup gelapnya malam

dimanakah tempat jiwaku harusnya berlabuh...?

aku hanya ingin benar
aku hanya ingin berguna




gunung menjulang, samudera yang luas, dunia yang tanpa batas...
ingin rasanya ku kunjungi kalian...
berjalan jauh menapaki seluruh permukaan bumi...
sejengkal demi sejengkal... selangkah demi selangkah...
aku ingin mengukir sejarah hidupku, meski aku harus menulis diatas air, atau dengan pasir yang tertiup angin

mungkin ini hanya egoku
mungkin aku tengah jauh dari realita
mungkin juga aku yang terlalu banyak membaca buku hingga imajinasiku jauh melampaui realitasku

mereka bilang aku hanya cukup duduk manis 
menjalani dan memperdalam profesiku dengan baik
sehingga mampu mengumpulkan pundi-pundi uang untuk mampu bertahan hidup (atau bahkan melampaui kemampuan itu?)
mereka bilang aku harus membuang mimpiku, menahan egoku
mereka bilang ini bukan saatnya bermain
waktu dan usia sudah menunjukkan bukan saatnya lagi

tapi aku masih menyimpan mimpi itu...
aku rindu dimana aku bisa menapaki sejengkal demi sejengkal tanah dengan kakiku
meski peluh bercucuran dan rasa haus tak tertahankan
aku rindu menghirup udara alam bebas
dimana gemericik air terjun melantun di telingaku
hamparan hijau menyejukkan mataku
aku rindu dimana aku mampu membantu semampuku
meski itu hanya mengais sampah di jalanan
atau membantu mereka menyebrang jalan

duhai jiwaku... terlalu jauhkah kau bermimpi?
terlalu ingin bebaskah jiwamu ini?

aku masih mampu membantu sebisaku saat ini
aku masih mampu menapaki gunung, meski  tidak seperti dulu

tapi bukan keadaan saat ini yang ku inginkan
aku tak butuh harta berlebih
karena aku terbiasa dengan kesederhanaan sedari dulu
aku tak butuh pengakuan orang lain dengan memiliki profesi dokterku
aku hanya ingin ketulusan kalian terhadap diriku... bukan profesiku...

jiwaku... bersabarlah...


Jumat, 16 November 2012

Allah with Us

Engkau jauh aku pun jauh
Sayap-sayapku tiada pernah basah
Dan mataku tiada pernah kering karena merindukanmu
Ketika hati ini memanggilmu
Aku hampir kalah oleh kesedihanku
Jika Engkau tiada menghiburku"


Innamaa asykuu batsi wa huznii ilaallaahi
"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku"
(QS Yusuf [12]:86)



saat kita melihat langit tak lagi berwarna biru, dan awan tak lagi berarak riang
berganti awan kelabu yang merintikkan airnya menuju dasar bumi
dan burung tak lagi terbang diangkasa, bertengger mencari perlindungan di pohon yang rindang

hujan yang turun tak selalu berarti hari menjadi kelabu, meski banyak hal hanya bisa dilakukan di dalam rumah
bukan berarti aku tak lagi bisa berlari dipadang rumput yang hijau sambil meniup bunga dandelion yang terbang mengikuti arah angin
atau duduk manis diatas pasir pantai sambil melukis senja yang merona di ufuk barat

bukankah dibawah hujan aku masih bisa berjalan atau berlari?
tertawa riang sambil menari bersama hujan
merasakan setiap tetes hujan yang menyentuh kulit

hujan hanya sesaat... jangan dikesali ataupun di sesali...

apapun yang sedang terjadi pada diri kita,
jangan pernah takut menghadapinya, jangan pernah bersedih
karena Allah selalu bersama kita
Dia tidak akan pernah mengingkari janji-Nya pada setiap orang yang mempercayai kebesaran-Nya



Sabtu, 10 November 2012

Pahlawan yang Terlupakan

 
Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Hari dimana yang katanya kita mengenang jasa para pahlawan. Status Blackberry, Facebook, Twitter dan sosial media lainnya berisi tentang kata-kata yang membangun atau sekedar mengucapakan selamat hari pahlawan. Spanduk-spanduk di jalan pun berisi tentang hari pahlawan, bahkan ada SMS yang meminta sejenak untuk mengheningkan cipta untuk mengenang para arwah pahlawan. 
"Sebagai bangsa besar yang selalu menghargai jasa para pahlawannya, mari kita mengheningkan cipta sejenak selama 60 detik pada tanggal 10 November pukul 08.15 waktu setempat," demikian bunyi imbauan tersebut.

Namun, benarkah bangsa Indonesia begitu menghargai jasa para pahlawan?

Ironisnya masih ada di berita mengenai janda-janda pahlawan yang terlantar hidupnya. Para veteran pejuang kemerdekaan yang tidak sejahtera masa tuanya. Kemanakah pemerintah? Kemanakah kepedulian kita terhadap jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia?
 
 

Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Namun, kenapa masih ada veteran pejuang kemerdekaan dan janda pahlawan yang terlantar nasibnya? 
 
Harusnya pemerintah memiliki anggaran tersendiri yang di khususkan untuk para janda pahlawan dan veteran pejuang kemerdekaan, sebagai wujud terima kasih bangsa Indonesia kepada mereka yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya anggaran yang di khususkan, minimal kesejahteraan masa tua terjamin dan tidak ada lagi kisah terlantarnya veteran pejuang kemerdekaan dan janda pahlawan.

Toh, "anggaran" untuk korupsi saja ada, kenapa untuk mereka tidak ada? Padahal anggaran itu mungkin tidak sebesar "anggaran" korupsi yang dilakukan oleh para petinggi-petinggi pemerintahan. 

Mungkin inilah jiwa bangsa Indonesia yang telah terbuai oleh kemerdekaan dan melupakan jasa para pejuang yang telah rela menumpahkan darahnya demi sebuah kemerdekaan bangsa. Terbuai dengan kenyamanan kemerdekaan dan semakin berkurangnya rasa nasionalisme di dalam jiwa bangsa Indonesia.
 
Tidak hanya jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan saja yang dilupakan. Bahkan "pahlawan" yang telah mengharumkan nama negara Indonesia baik dalam bidang olah raga, sains maupun yang lainnya pun banyak yang terlantar. Inilah potret bangsa kita saat ini.

Wahai pahlawan pejuang kemerdekaan, maafkanlah kami yang tak mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia seutuhnya. Yang tak mampu menciptakan generasi penerus bangsa yang mampu membawa Indonesia ke dalam kemerdekaan sesungguhnya. Ternyata waktu 350 tahun dalam kebodohan penjajahan tak cukup untuk membuat jiwa bangsa ini bangun dan merdeka. Karena penjajahan tak lagi melalui perebutan wilayah atau negara. Tak lagi dengan pertumpahan darah dan alat-alat perang. Tak lagi perlu datang dengan kapal perang dan prajurit yang memegang senjata. 
Petinggi negara terbuai dengan uang dan kekuasaan. Budaya luar menjajah pemikiran bangsa kita. Generasi muda tak lagi peduli dengan rasa nasionalisme. Kemanakah negara ini akan dibawa? Generasi seperti apakah yang akan meneruskan bangsa ini?
 
Apakah mungkin kami hanya mampu menjadi bangsa yang mengenang jasa para pahlawan? Bukan menghargai dan meneruskan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya.



Minggu, 07 Oktober 2012

Bali

Yups, akhirnya bisa juga ke Bali :)
Hehehe bener-bener norak banget, baru sekarang bisa ke Bali, dari yang sebelumnya cuma liat di teve plus denger cerita dari orang-orang. Keberangkatan ini juga karena sebuah keberuntungan aja, sebuah perjalanan yang Allah kasih. Berbarengan dengan papa yang ada urusan kerja ke Bali.

Perjalanan singkat ini terjadi hari Kamis, 4-6 oktober 2012. Alhamdulillah hotel tepat di depan pantai Kuta, di Grand Istana Rama Hotel. Hotel yang memakai konsep desa adat bali di dalamnya terasa indah dan asri dengan ornamen kayu dan banyaknya pohon-pohon rindang. Tidak berapa lama papa mengajakku jalan-jalan di sepanjang pantai Kuta. Pantainya yang landai dan terhampar luas pasir yang putih, sungguh sangat berbeda dengan pantai Anyer yang disisi pantainya sudah penuh dengan hotel-hotel. Para wisatawan ada yang asik bermain air, bermain pasir, atau sekedar jalan menyusuri pinggir pantai. Aku dan papa hanya berdiri menikmati angin laut sambil memperhatikan orang-orang. Ya, hobi aku dan papa itu tersenyum, memperhatikan orang-orang, sambil berkomentar sesekali. Tidak berapa lama, kedua teman papa datang dan mengajak ke Joger untuk melihat-lihat kaos. Anak-anak minta oleh-oleh kaos. Alasan kedua bapak itu. Padahal mereka sudah berkali-kali kemari untuk urusan kerja, tapi tetap saja oleh-oleh kaos itu yang  mereka beli. 

Ke bali adalah urusan kerja untuk papa, tinggal aku yang bingung mau kemana seharian ini. Akhirnya setelah menghubungi teman yang sering ke Bali, aku diberi rekomendasi mobil sewaan. Sehari (12 jam) Rp.300.000, sudah termasuk bensin dan uang makan sopirnya. Akhirnya, tepat jam 9 pagi pak Bagus datang untuk mengajakku berkeliling disebagian wilayah Bali. Pak Bagus bilang, waktu yang terlalu singkat untuk menjelajah semuanya, minimal seminggu di Bali, baru terjelajah semuanya. Pria sekitar umur 55 tahun itu sangat baik, ramah, dan merupakan guide yang baik. Setelah ditanya kemana tujuan yang akan dituju, akhirnya karena aku bingung ingin semuanya di kunjungi. aku bilang "Pemandangan alam saja Pak Bagus". Akhirnya, kami segera meluncur ke Monkey Forest, Goa Gajah, dan Gunung Kawi. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya mata ini melihat jalanan, rumah-rumah, pura, dan toko-toko yang berjejer. Pak Bagus sempat berkata, "Baru kali ini ada anak muda yang maunya ke pemandangan alam dan pura, yang lain biasanya maunya water sport atau belanja."

Monkey Forest di daerah adalah tujuan pertama. Pemandangan yang asri sepanjang perjalanan benar-benar menyejukkan mata. Rumah-rumah yang terdapat banyak ukiran membuatku terkagum-kagum. Indahnya pulau Bali. Sesampainya di tempat tujuan, monyet-monyet yang banyak itu saling berlalu lalang. Turis-turis asik berfoto atau hanya sekedar melihat-lihat saja. Setelah sempat berputar sebentar, pak Bagus mengajakku melihat keindahan lukisan yang di pamerkan di Monkey Forest.




Perjalanan kedua menuju Goa Gajah. Sepanjang jalan itu, pak Bagus banyak bercerita mengenai keindahan alam Bali, tentang upacara ngaben dan upacara adat lainnya. Mendekati Goa Gajah, kami menyempatkan makan siang di sebuah rumah makan. Ayam Betutu adalah pesanan utama. Ku ajak pak Bagus makan bersama. Walaupun awalnya menolak, tapi setelah dipaksa akhirnya mau juga. Sambil menanti ayam betutu datang, pak Bagus bercerita mengenai keluarganya. Beliau memiliki dua orang putra. Yang pertama tengah berlayar, dan yang kedua baru lulus SMA. Istrinya adalah seorang perawat. Beliau juga berencana ingin membuka penginapan di dekat rumahnya, namun terbentur biaya sehingga keinginannya belum tercapai.
Tidak lama pesanan pun datang. Ayam betutu ditemani dengan segelas es teh manis, benar-benar membuat perut keroncongan. Apalagi ayam betutu nya terasa enak dan gurih di lidah. Bahkan Pak Bagus sempat berkata, "Mba Indah, baru kali ini saya makan ayam betutu seenak ini... Pantas tamu-tamu selalu minta makan ayam betutu di tempat ini." Aku hanya tersenyum, jadi selama berkali-kali beliau menemani tamu-tamu, baru kali ini beliau makan ditempat ini. Tempat yang selalu menjadi tujuan tamu-tamunya.



Pura Goa Gajah terletak di desa Bedulu. Menurut riwayat, Goa Gajah sering digunakan untuk bertapa, dan terdapat air suci. Di dalamnya terdapat 3 arca, yaitu Ratu Kompiang, arca Trilingga, dan arca Ganesha.








Setalah Goa Gajah, kami langsung menuju Gunung Kawi, yang masih termasuk wilayah Tampaksiring, Gianyar. Pemandangan makin asri dengan banyaknya sawah yang menghijau. Perjalanan menuju Pura Gunung Kawi harus melalui 315 anak tangga yang menurun ke bawah. Setelah melewati anak tangga, akan terlihat sungai Pakerisan melintasi dalam candi Gunung Kawi. Menurut pak Bagus, ini adalah tempat Raja Udayana dimakamkan (tempat abu Raja Udayana disimpan).








Menjauh dari Pura Gunung Kawi, pak Bagus mengajakku untuk melihat Tari Kecak pukul 6 sore.




Sempat pula dalam perjalanan, pak Bagus mengajakku minum kopi luwak, dan berkunjung ke tempat pembuatan perak.

Perjalanan indah yang disuguhkan pak Bagus yang ramah dan baik. Dari memotong jalan, sempat tersasar, sampai terkena macet karena ada upacara ngaben. Dan pak Bagus dengan sabarnya menjawab semua pertanyaanku yang teramat banyak mengenai Bali dan adat istiadatnya. Terima Kasih Pak Bagus untuk perjalanan yang indah ini. Semoga saat kembali berkunjung ke Bali bisa bertemu bapak lagi :).

Pak Bagus yang ramah dan baik hati





Senin, 01 Oktober 2012

Sayuran


Bismillaahhirrahmaanirraahiim,
Hari ini awal memulai usaha dengan senior yang sudah seperti kakak sendiri, Sopyan Tsauri :)

Setelah melalui perbincangan yang panjang, perjalanan yang jauh, menyamakan pemikiran, dan akhirnya karena di dorong rasa ingin berbisnis dan membantu, terciptalah usaha ini. Usaha sayuran.

Ini mungkin usaha kecil-kecilan yang tercipta dari kami berdua, dan memang besar harapan bisa berkembang menjadi lebih baik ke depannya. Ya, bisnis sayuran. Konsep berbisinis yang dimulai dari bawah dengan modal seminimal mungkin. Dengan modal awal +/- 500 ribu kami memulai bisnis ini. Memang seperti pedagang pada umumnya, menggelar di jalanan atau ke pasar malam dengan menawarkan harga yang lebih murah dibanding tempat lain. Tapi kami juga memakai sistem "menjemput bola". Tidak hanya duduk berdiam diri menunggu pembeli datang. Jadi, sebelum bisnis ini dimulai, kami sudah mendatangi beberapa rumah makan/warteg/tukang nasi uduk disekitar tempat tinggal untuk diajak "bekerjasama". Kami akan memenuhi kebutuhan sayuran dari tiap-tiap tempat sesuai kebutuhannya (saat ini kami lebih mengutamakan bawang merah, cabai, kentang, kol). Alhamdulillah diawal perjalanan, ada 4 tempat yang bersedia kami ajak kerjasama. 

Tidak hanya itu, awalnya kami melihat peluang di tukang sayuran keliling untuk mensuplai bahan jualan mereka setiap harinya, tapi setelah berbincang-bincang, ternyata mereka sudah ada yang mengkoordinir. Padahal mereka mengakui penawaran harga sayuran kami lebih murah dibanding harga dari "bos" mereka. Karena sistem kontrak yang sudah tertanda tangani oleh mereka, akhirnya penawaran kami ditolak secara halus atas dasar sudah terjalinnya sistem kepercayaan antara mereka dan si bos. Lalu kami beralih melihat peluang di penjual gorengan dan penjual siomay. Peluang memang ada, karena sebagian dari mereka masih membeli sendiri bahan-bahan yang akan digunakan untuk berjualan, namun karena terbatasnya transportasi dari kami, dan kepercayaan dari mereka yang belum tumbuh, akhirnya kerjasama ini belum terjalin. Semoga kerjasama dengan penjual gorengan dan penjual siomay bisa secepatnya terjalin. Semua yang dimulai dari bawah memang butuh proses, dan proses inilah yang akan membuat kita kuat dan semakin berkembang. 

Semoga bisnis ini bisa semakin berkembang, dan semoga bisa membangun bisnis yang baru. 

Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin :)

Semangat kakak untuk bisnis kita 
Hidup Freeman!! Untuk jiwa-jiwa bebas yang tidak suka terikat aturan baku sebuah perusahaan.






Selasa, 25 September 2012

Terjun Bebas

               “Kamilah jiwa-jiwa bebas yang tidak terikat aturan baku sebuah perusahaan”             

"Hidup itu seperti mencoba terjun payung. Dimana kita mencoba melawan ketakutan kita akan rasa ketinggian dan keraguan untuk mencoba terjun. Terkadang butuh semangat teman untuk bisa terjun, atau bergandengan tangan dengan teman dan terjun bersama-sama sehingga rasa takut menjadi berkurang. Atau bahkan butuh kehadiran teman yang kesal karena menunggu kita tidak terjun juga, akhirnya mendorong kita untuk jatuh dari helikopter dan membuat kita berteriak. 
Namun saat parasut terbentang dan kita bisa melihat kota kita dari sudut pandang atas, disitulah kita bisa menikmati keindahan. Keindahan karena berani melawan ketakutan. Kepuasan karena mampu melawan keraguan untuk terjun. Dan nilai plusnya, kemampuan melihat peluang yang ada saat kita menikmati melihat kota dari atas. Karena sesekali, kita memang membutuhkan sudut pandang yang berbeda dari biasanya untuk mendapatkan inspirasi. 
Jadi, terjun seorang diri, bersama teman, atau di dorong teman, itu hanyalah sebuah proses untuk menghilangkan ketakutan. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki rasa takut. Tinggal caranya saja bagaimana untuk menghilangkan rasa takut itu. Dan aku memilih terjun bergandengan bersama teman, menikmati keindahan kota bersama-sama, sambil berdiskusi mencari peluang yang ada, dan tentunya bersama lebih mengurangi rasa takut kita. Karena dua kepala lebih baik daripada satu kepala. Bersama mencoba menyatukan ide, membuat konsep dan melaksanakannya. Siapakah sang konseptor dan eksekutor? Dua-duanya konseptor atau dua-duanya eksekutor, atau salah satu konseptor atau eksekutor? Mana saja, asal di iringi dengan dasar kepercayaan, satu dalam visi dan misi, maka semua akan terlaksana. Maka keberanianlah yang berbicara."

Kita adalah makhluk sosial. Tidak mungkin kita hidup tidak membutuhkan orang lain. Bahkan untuk hal terkecilpun kita masih membutuhkan orang lain. Bukankah hidup itu harus seimbang antara hablumminallah dan hablumminannas. Dan sebagai makhluk sosial, hablumminannas atau hubungan dengan manusia harus terjalin dengan baik. 
Setiap orang membutuhkan partner dalam hidupnya. Baik partner yang diartikan sahabat, teman, partner dalam bekerja, berumah tangga dan hal lainnya. Sahabat dan teman pasti kita sudah memilikinya. Bahkan seorang penjahat pun memiliki sahabat yang dipercayainya. Dan sekarang, aku menemukan partner kerja/bisnis ku. Orang itu adalah senior di SMA yang sudah aku anggap kakak sendiri. 
Berawal dari terlalu banyak menganggur dan mengalami kebosanan tingkat tinggi, kemudian pergi ngebolang bersama sampai tidak ada tempat terdekat untuk dituju lagi, saat itulah akhirnya keputusan untuk bisnis bersama tercetus. Bisnis berdasarkan kepercayaan. Tidak perduli perbedaan profesi yang ada diantara kita. Apa peduli dengan profesi yang berbeda? Toh dimata Allah kita semua sama. 
Sebagai dua orang pengangguran yang kerjanya hanya jalan-jalan, dan memiliki jiwa yang selalu ingin bebas dan tidak terikat pekerjaan, akhirnya kami memutuskan untuk terjun bersama. Terjun ke dunia bisnis. Menjadi pegawai sepertinya bukan jiwa kami. Malah jika bisa, nanti kami ingin membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. 
Semua inspirasi muncul beriringan dengan roda mobil yang berputar, jalan-jalan yang di lalui, dan obrolan-obrolan yang panjang. Terlalu banyak inspirasi yang didapat tapi modal tidak ada. Terlalu banyak konsep yang dibuat tapi sulit menjalankannya. Akhirnya, karena mengetahui posisi masing-masing, berjualan sayuran adalah bisnis awal kami. Ini adalah hasil pemikiran dan keputusan bersama. Setelah menimbang dan memperkirakan segalanya, bisnis ini yang paling mudah dijalani mengingat senior lebih menguasai sayuran dan modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar. 
Aku lebih cocok menjadi sang konseptor dan Sopyan Tsauri sang eksekutor. 
Ini semua tidak hanya menjalin kerjasama bisnis semata, tapi karena ada unsur yang lebih penting dari menghasilkan uang itu sendiri. Terjalinnya kerjasama ini atas unsur kepercayaan dan saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Semoga bisnis ini adalah langkah awal kami untuk memulai bisnis-bisnis yang lain. Karena terlalu banyak inspirasi dikepala ini yang berputar dan ingin di wujudkan.

Semangat untuk bisnis kita
Hidup freeman!